LombokPost - Ketika beberapa daerah di NTB terseok-seok menggenjot penyerapan pupuk bersubsidi akibat masuknya musim tanam palawija, Kota Mataram justru stabil. Konsistensi petani Mataram yang mempertahankan pola tanam padi tiga kali setahun atau Indeks Penanaman (IP) 300 menjadi jurus ampuh menjaga realisasi pupuk subsidi tetap on the track.
“Tapi petani kita di Kota Mataram sampai saat ini konsisten menanam padi, belum beralih," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Johari.
Johari mengatakan, hingga Juni 2026, serapan alokasi pupuk subsidi di wilayahnya berjalan optimal dan berbanding lurus dengan kondisi musim tanam kedua menjelang masa panen.
Baca Juga: Olah Sampah Organik Jadi Pupuk, SMAN 3 Mataram Gelar Literasi Lingkungan Hidup
Kunci utama terjaganya ritme distribusi ini terletak pada IP Kota Mataram yang menyentuh angka 3. Pola tanam padi-padi-padi yang diterapkan di lahan seluas 1.158,76 hektare tersebut mampu menghasilkan produktivitas rata-rata hingga 6,4 ton per hektare.
“Dengan IP 3, petani bisa menanam padi tiga kali dalam setahun, sehingga alokasi pupuk subsidi terserap secara maksimal dan efisien," tambahnya.
Realisasi penyaluran pupuk subsidi per Januari hingga Juni 2026 pun mencatatkan tren positif. Untuk jenis NPK, penyerapan terbilang moncer setelah menembus angka 45 persen atau setara 318 ton dari total alokasi tahunan sebesar 700 ton. Sementara itu, pupuk jenis Urea telah terserap sebanyak 354,32 ton atau mencapai 37,30 persen dari total kuota 950 ton yang dialokasikan untuk Kota Mataram.
Johari menegaskan, ketepatan sasaran ini juga ditopang oleh mekanisme penyusunan usulan kebutuhan pupuk yang dilakukan secara bottom-up. Alokasi yang dikucurkan pemerintah berpatokan langsung pada usulan riil dari 1.462 petani yang tersebar di enam kecamatan se Kota Mataram.
“Melalui sistem usulan dari bawah ini, penyaluran program pupuk subsidi di Kota Mataram setiap tahunnya selalu terealisasi sesuai target yang kita harapkan,” pungkasnya. (chi)
Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Liputan