Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu, Bocah Penakluk Panggung Duta International Culture 2026

Chia • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 05:30 WIB

 

Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu
Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu

 


Mengubah Keterbatasan Menjadi Mahkota Kebanggaan

 

Sempat divonis mengalami Attention Deficit Disorder (ADD) saat balita, Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu membuktikan, jika keterbatasan tumbuh kembang tak mampu memadamkan sinar bakatnya. Lewat ketekunan terapi dan gemblengan hangat sang ibu, bocah kelas 3 SD asal Lombok ini sukses memboyong mahkota tertinggi Duta Fashion Culture 2026 di Bali.

SANCHIA VANEKA, Mataram 

Gemerlap lampu sorot di atrium Living World Denpasar, Bali, pada Sabtu malam, 25 Juli lalu, di atas panggung megah Grand Final Duta International Culture 2026, seorang gadis kecil melangkah dengan keanggunan yang menawan. Langkah kakinya begitu mantap, tatapannya menyinarkan rasa percaya diri yang meluap, dan senyumnya menyihir ratusan pasang mata yang memadati arena.

Gadis kecil itu adalah Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu. Anak perempuan yang baru saja naik ke kelas 3 Sekolah Dasar (SD) ini bukan sekadar tampil memukau. Di akhir malam penganugerahan, Kanaya resmi disematkan mahkota dan menyabet gelar paling bergengsi, yakni Duta Fashion Culture 2026. Gelar tunggal ini diperebutkan dari seluruh lintas kategori persaingan, mulai dari Little Kids 13 peserta, Kids 12 peserta, hingga Teenagers 10 peserta.

Bagi khalayak umum, raihan tersebut mungkin tampak seperti kisah sukses bocah berbakat pada umumnya. Tapi bagi sang ibu, Ida Ayu Supraptini, momen malam itu adalah sebuah keajaiban hidup yang mengeluarkan air mata. Tidak ada yang pernah menyangka, gadis yang kini menaklukkan panggung catwalk nasional itu dulunya harus berjuang keras melawan keterbatasan tumbuh kembangnya sendiri.

“Kanaya itu saat masih balita didiagnosis mengalami kondisi ADD (Attention Deficit Disorder), sebuah kondisi neurodiversity dengan gangguan fokus pendek. Pada masa itu, perkembangannya sangat terlambat dibanding anak-anak seusianya,” kenang Ibu Ida Ayu Supraptini. 

Baca Juga: Nayla Putria Nanda Lolos OSN NTB, Siswi SMPN 15 Mataram Siap Beradu di Bidang IPA

Kondisi tersebut tentu bukan sebuah penyakit yang bisa disembuhkan secara instan, melainkan sebuah bentuk keanekaragaman saraf (neurodiversity). 

Namun, keluarga tidak tinggal diam. Selama kurang lebih 3 hingga 4 tahun, Kanaya harus menjalani serangkaian terapi medis yang ketat dan melelahkan. Berkat ketelatenan orang tua serta bimbingan dokter rehabilitasi medik, Kanaya akhirnya dinyatakan lulus terapi dan sudah bisa berbaur sepenuhnya dengan anak-anak tipikal pada umumnya di tengah masyarakat.

Sejak usia balita, benih ketertarikan Kanaya terhadap seni memang sudah terpancar kuat. Di usia 4,5 tahun, ia sudah merintis minatnya dengan bergabung di sanggar Tari Bali. Semakin bertambah usianya, antusiasmenya untuk tampil di depan umum justru semakin membara. 

Semakin riuh tepuk tangan dan semakin banyak penonton yang hadir, semakin bersemangat Kanaya menunjukkan kepiawaiannya. 

“Setiap ada kesempatan baik di sekolah maupun komunitas masyarakat, Kanaya selalu menjadi yang terdepan untuk menunjukkan bakatnya,” ucapnya. 

Saat ini, Kanaya aktif menekuni bidang Modelling, Tari Bali, HipHop Dance, hingga Seni Musik Tradisional Gamelan. Berawal dari panggung-panggung lokal di area Lombok di mana ia langganan meraih juara sejak jenjang TK, keluarga berani mengambil langkah besar mengeskalasi kemampuannya ke tingkat nasional di Bali.

“Pertamanya ada keraguan besar karena persaingan di Bali sangat ketat. Bali dikenal sebagai salah satu daerah pencetak model-model terbaik di Indonesia. Tapi melihat kegigihan Kanaya yang terus berlatih pantang menyerah, kami orang tua ikut termotivasi penuh,” tuturnya. (bersambung) 

 

Editor : Redaksi Lombok Post
DUTA FASHION CULTURE DUTA FASHION CULTURE 2026 di bali Mataram