Sentuhan Kasih Ibu di Balik Kilau Gaun Merah

Chia • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:30 WIB
Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu berpose anggun mengenakan mahkota dan selempang kemenangan sebagai Duta Fashion Culture 2026.
Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu berpose anggun mengenakan mahkota dan selempang kemenangan sebagai Duta Fashion Culture 2026.

 

Di balik langkah penuh pesona Kanaya menaklukkan panggung utama, tersembunyi peluh dan dedikasi luar biasa sang ibu yang merancang serta memayet sendiri gaun malamnya.

Kemenangan menyabet gelar tunggal Duta Fashion Culture 2026 ini bukan sekadar tentang mahkota, melainkan perayaan atas cinta keluarga dan dedikasi melestarikan budaya bangsa.

 

----------------------------

 

Kanaya melangkah dalam balutan evening gown berwarna merah menyala pada malam Grand Final 25 Juli 2026 lalu, siapa pun akan terpesona oleh detail kemewahannya.

Namun, tidak banyak yang tahu kalau gaun malam memukau tersebut lahir langsung dari jemari sang ibu, Ida Ayu Supraptini.

Setiap helai kain, guratan desain, hingga ribuan permata dan payet yang menempel indah di gaun serta aksesorisnya dipasangkan sendiri oleh sang ibu di rumah.

“Mengantar les setiap hari itu sudah menjadi kewajiban rutin. Kami mengulang materi-materi dari coach-nya, dan sejauh ini untuk lomba model saya sendiri yang makeup-in. Namun saat Grand Final kemarin, gaun malam warna merah yang Kanaya kenakan adalah gaun yang saya desain, saya payet, dan saya pasangkan permata sendiri sampai ke aksesorisnya. Jadi itu momen yang sangat spesial bagi kami berdua,” katanya, Minggu (9/8). 

Baca Juga: Ida Ayu Kanaya Jnanita Manu, Bocah Penakluk Panggung Duta International Culture 2026

Perjuangan menuju panggung Duta International Culture 2026 di Living World Denpasar memang terbilang sangat padat dan menguras energi.

Rangkaian ajang yang dimulai dari Sashing Ceremony pada 11 Juli, dilanjutkan Talent Round pada 18 Juli, hingga puncak Grand Final pada 25 Juli menuntut stamina dan mental kuat. Kanaya harus mencuri-curi waktu latihan di antara jadwal sekolah dan berbagai kegiatan lesnya yang padat.

Momen yang paling membekas sekaligus paling berat adalah saat Kanaya harus mempelajari ilmu public speaking. Berbeda dengan peserta lain yang didampingi pelatih khusus, Kanaya belajar berpidato secara mandiri di rumah hanya bersama sang ibu. 

Karena merupakan pengalaman pertama menyampaikan speech di depan publik, Kanaya sempat berada di titik jenuh dan hampir menyerah.

Namun berkat dorongan hangat sang ibu, bocah tangguh ini mampu bangkit dan melewatinya dengan sangat baik.

“Kalau ada kegiatan yang lebih mendesak, jadwal lainnya akan kami atur ulang. Syukurnya, baik pihak sekolah maupun para coach dari semua kegiatan Kanaya saling mendukung satu sama lain. Ini sangat membantu pengaturan jadwal kami,” tambahnya.

Keluarga Kanaya memang tidak bisa dilepaskan dari urat nadi kebudayaan Nusantara. Dalam kehidupan sehari-hari, tradisi berkain, berkebaya, dan menari telah menjadi bagian tak terpisahkan dari nafas kehidupan keluarga mereka. Nilai-nilai luhur itulah yang menuntun Kanaya hingga mampu menyabet gelar Duta Fashion Culture 2026, menyisihkan kontestan dari pelbagai usia.

Saat ditanya mengenai perasaannya melihat sang buah hati yang dulunya memiliki keterbatasan tumbuh kembang kini berdiri tegak memegang mahkota, rasa terharu tak lagi sanggup dibendung sang ibu. Semua usaha, peluh, dan kecemasan masa lalu kini berbuah manis.

Melalui platform Duta International Culture ini, sang ibu berharap putrinya tidak hanya tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Tetapi juga mampu mengobarkan semangat bagi generasi muda daerah lainnya.

“Semoga Kanaya bisa menjaga kepercayaan yang diberikan dan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Kami berharap Kanaya bisa menginspirasi banyak anak daerah untuk berani mencoba hal baru serta mencintai dan bangga dengan budaya yang kita miliki. Yang Muda, Yang Berbudaya!” pungkasnya. (*) 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
DUTA FASHION CULTURE 2026 Mataram