LombokPost - Industri perhotelan di Kota Mataram mulai merasakan dampak signifikan dari kebijakan efisiensi anggaran belanja daerah.
Pemangkasan anggaran dinas hingga 30 persen oleh pemerintah daerah berimbas langsung pada penurunan drastis kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan hotel di Kota Mataram.
“Memang kita akui, terkait efisiensi anggaran dari daerah terutama belanja daerah yang dipotong hingga 30 persen itu ada dampaknya. Kegiatan meeting tidak seramai dulu. Padahal biasanya memasuki bulan Agustus sampai pertengahan Desember itu kita panen raya,” kata Sekretaris Asosiasi Hotel Mataram (AHM) Rega Fajar Firdaus.
Reza mengungkapkan tren bisnis perhotelan sebenarnya menunjukkan arah pemulihan.
Namun, kebijakan pengetatan anggaran dari pemerintah daerah menekan pendapatan hotel secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Proses Hukum Masih Berjalan, Eksekusi Lelang Sunwood Hotel Arianz Mataram Dituding Cacat Prosedur
Penurunan kegiatan MICE dari instansi pemerintah ini memaksa para pengelola hotel memutar otak untuk bertahan.
Saat ini, pelaku usaha perhotelan di Mataram sangat bergantung pada penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP) untuk mendongkrak okupansi di sisa akhir tahun.
“Kita masih menunggu anggaran perubahan ditandatangani dan diketok palu oleh DPRD. Setelah itu baru kita bisa melakukan pendekatan ke instansi pemerintah untuk kegiatan dinas, meeting, maupun perjalanan dinas,” jelasnya.
Tekanan ekonomi ini turut memicu kekhawatiran terkait potensi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan hotel.
Menanggapi hal tersebut, Rega memastikan hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai PHK massal secara permanen di hotel-hotel anggota AHM.
Untuk menyiasati biaya operasional yang membengkak di tengah minimnya kegiatan MICE, sejumlah hotel menerapkan strategi penyesuaian tenaga kerja.
Pekerja harian atau daily worker serta karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Pertentu (PKWT) untuk sementara diliburkan hingga volume bisnis kembali pulih.
“Kalau PHK yang jelas, kita belum mendengar ada laporan ke AHM. Trennya saat ini, beberapa pekerja harian diliburkan sementara. Nanti ketika ada tren bisnis atau event ramai, mereka dipanggil dan dipekerjakan kembali,” tambahnya.
AHM mengimbau seluruh pengelola hotel di Mataram untuk tetap optimistis dan menahan diri dari tindakan PHK, sambil menunggu momentum kebangkitan okupansi dari agenda pemerintah dan wisatawan di akhir tahun.
Senada dengan hal tersebut, Ketua AHM I Made Adiyasa Kurniawan mengatakan, secara umum kondisi ketenagakerjaan di hotel-hotel anggota AHM sepanjang tahun 2026 ini masih relatif stabil dan kondusif.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai ancaman PHK massal di luar kasus penutupan hotel tertentu.
“Kalau hotel lain selain Arianz, saya belum ada informasi PHK. Kelihatannya masih aman-aman saja,” katanya.
Menanggapi nasib sekitar 40 pekerja yang terdampak imbas penutupan Hotel Arianz, pihak AHM tidak tinggal diam.
Adiyasa memastikan penyerap tenaga kerja telah berjalan. Di mana sebagian eks-karyawan hotel tersebut sudah mulai ditampung dan dipekerjakan kembali oleh hotel-hotel jaringan AHM lainnya di Kota Mataram.
“Peluang penyerapan sudah dilakukan. Eks-karyawan Arianz Hotel sudah ada yang diterima di hotel-hotel lain di Mataram,” tambahnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan