LombokPost - Industri akomodasi kelas menengah ke bawah di Kota Mataram sedang tidak baik-baik saja. Dihantam krisis berkepanjangan sejak gempa Lombok hingga pandemi Covid-19, sebanyak 12 hotel non-bintang (hotel Melati) di Kota Mataram resmi gulung tikar dan berhenti beroperasi secara total.
Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, Leni Oktavia, mengungkapkan bahwa penutupan belasan hotel ini merata di hampir seluruh kecamatan.
"Ada sekitar 12 hotel yang sudah kami anggap tidak beroperasi lagi secara aktif, dan itu semua merupakan hotel Melati," ujar Leni.
Baca Juga: Kalah Saing, Hotel Melati di Mataram Desak Kos Elite Dikenakan Pajak
Dari data pemutakhiran Dispar Kota Mataram, Kecamatan Selaparang menjadi wilayah terdampak terparah dengan lima hotel tutup, disusul Ampenan (3 hotel), Mataram (2 hotel), serta Cakranegara dan Sandubaya masing-masing satu hotel.
Fenomena tumbangnya hotel Melati ini bukan sekadar dampak sisa pandemi. Rendahnya tingkat keterisian kamar (*occupancy rate*) membuat para pengusaha tak sanggup menutup biaya operasional. Efek dominonya, penunggakan pajak daerah tak terhindarkan hingga memicu krisis finansial yang berujung pada ketidakmampuan membayar gaji karyawan.
Di sisi lain, pergeseran tren akomodasi turut menggerus pasar hotel Melati. Ketua Perhimpunan Hotel Melati Kota Mataram, Gede Wenten, membeberkan bahwa 38 pengusaha hotel di bawah naungannya kini harus bersaing ketat dengan maraknya kos-kosan elite yang menyasar segmen pasar serupa.
"Banyak kawan-kawan mengeluh. Bahkan waktu ada acara besar kemarin, masih ada hotel melati yang tidak mendapatkan tamu sama sekali," ungkap Gede.
Berbeda nasib dengan hotel Melati, sektor hotel berbintang di Mataram relatif stabil. Satu-satunya hotel bintang yang tutup adalah Hotel Grand Legi (bintang empat), yang diketahui berhenti beroperasi akibat konflik internal manajemen, bukan murni karena faktor krisis pasar.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan