Jejak Cita Rasa Majapahit dalam Sebotol Jamu Karya Poltekpar Lombok

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:19 WIB
Ujud Supriaji memperlihatkan dua botol produk minuman herbal atau jamu yang dapat mendukung hidup sehat.
Ujud Supriaji memperlihatkan dua botol produk minuman herbal atau jamu yang dapat mendukung hidup sehat.

 

Ada banyak cara untuk mengenali sebuah bangsa. Bisa melalui bahasa, pakaian, hingga kesenian. Namun, bagi Ujud Supriaji, Dosen Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, ada satu warisan yang kerap luput dari perhatian: jamu.

 

---

 

UJUD Supriaji dan mahasiswa Poltekpar Lombok membawa sesuatu yang nampak sederhana. Namun memiliki akar sejarah panjang. 

 

Bukan minuman impor. Bukan pula racikan modern dari bahan asing. “Ini kunyit asem dan beras kencur,” kata Ujud dengan nada suara kalem, Rabu (12/8).

 

Keduanya merupakan minuman tradisional. Menurut Ujud telah dikenal sejak masa lampau, termasuk dalam tradisi keraton di Jawa pada masa Majapahit.

 

Baca Juga: PLN UIP Nusra Ajak Warga NTB Raup Cuan dari Sampah Plastik

 

“Ini khas minuman zaman Majapahit,” imbuhnya.

 

Majapahit menjadi pintu masuk menarik. Memahami jamu sebagai bagian dari perjalanan panjang budaya Nusantara.

 

Sebab, jauh sebelum istilah wellness tourism dikenal, masyarakat Nusantara telah memanfaatkan kekayaan alam. Menjaga kebugaran tubuh.

 

Kunyit, asam jawa, gula aren, kapulaga, hingga pandan. Semuanya bukan bahan yang harus didatangkan dari belahan dunia lain. 

 

Baca Juga: Mayura Heritage Yoga Ketiga Sukses Digelar Meriahkan HUT RI dan HUT ke-33 Kota Mataram

 

“Semuanya tumbuh dan hidup dekat dengan masyarakat Indonesia,” terangnya.

 

Di situlah Ujud melihat kekuatan jamu. “Kita tahu ada kopi, ada teh. Teh dari Cina, kopi dari Ethiopia. Yang punya kita kok enggak ada?” ujarnya.

 

Menurut dia, Indonesia sebenarnya memiliki warisan minuman sendiri. Tak kalah kuat. 

 

Jamu lahir dari kekayaan rempah. Sejak dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Nusantara.

 

“Yang punya kita itu ternyata produk dari rempah-rempah ini. Dari kunyit, dari yang milik kita, sekitar kita ada. Jamu,” katanya.

Baca Juga: Dari Razia ke Partisipasi: Mataram Perlu Pengawasan Minuman Beralkohol Berbasis Masyarakat

 

Pandangan itu pula yang membuat Ujud memilih mengembangkan jamu di lingkungan pendidikan pariwisata. Baginya, wellness tourism tidak semata-mata berbicara tentang olahraga, relaksasi, atau kebugaran tubuh.

 

Ada unsur pangan sehat dan pengetahuan. Tentang bahan-bahan alami yang juga menjadi bagian penting di dalamnya.

 

Produk jamu kunyit asem dibuat dari bahan-bahan alami. Kunyit menjadi bahan utama, kemudian dipadukan dengan asam jawa dan gula aren atau gula kelapa. 

 

Untuk memperkuat aroma, digunakan kapulaga dan daun pandan. Tidak ada bahan pengawet.

 

“Semua ini alami,” tegasnya.

Baca Juga: Cegah Bullying Lewat HP, Dikes Mataram Luncurkan Aplikasi Si Besti di SMPN 15

 

Resep tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari resep tradisional yang diwariskan lintas generasi. Di tangan Ujud dan mahasiswa Poltekpar Lombok, warisan itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. 

 

Jamu justru ditempatkan sebagai bagian dari pembelajaran. Agar generasi yang bergerak di sektor pariwisata mengenal kekayaan budaya.

 

Ujud sendiri merupakan dosen yang berkecimpung dalam bidang jamu tradisional. Ia berasal dari Kebumen, Jawa Tengah, daerah yang juga memiliki tradisi jamu yang kuat.

 

Namun, perjalanan jamu yang dibawanya kini tidak lagi berhenti di Jawa. Ia hadir di Lombok, berdampingan dengan gagasan tentang pariwisata sehat.

 

Dalam satu kegiatan wellness tourism di Kota Mataram, Poltekpar Lombok membawa lebih dari 200 produk jamu untuk dinikmati para peserta. Jumlah itu memang belum menunjukkan sebuah industri besar. 

 

Baca Juga: Urus SIP Tak Lagi Ribet, DPMPTSP Mataram Gebrak Inovasi MPP Digital untuk Tenaga Medis

Tetapi baginya yang lebih penting bagaimana masyarakat kembali melihat jamu bukan sekadar minuman masa lalu. Di baliknya tersimpan cerita tentang rempah, pengetahuan leluhur, dan kemampuan masyarakat Nusantara mengolah kekayaan alam menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tubuh.

 

“Majapahit boleh menjadi bagian dari sejarah, tapi jejak rasa yang ditinggalkannya masih bisa ditemukan dalam segelas jamu hari ini,” ujarnya, sembari tersenyum.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
wellness tourism jamu majapahit ujud supriaji jamu herbal Poltekpar Lombok