LombokPost - Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram bersiap mengambil sikap terhadap maraknya aksi pengemis berkedok pengamen di sejumlah destinasi wisata. Langkah penertiban ini ditempuh menyusul banyaknya keluhan dari para wisatawan yang merasa resah dengan keberadaan oknum pengamen gadungan tersebut. Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra menyayangkan keberadaan oknum yang memanfaatkan seni jalanan hanya sebagai modus untuk meminta-minta.
"Jangan sampai pengamen-pengamen ini modus, seperti tujuannya untuk minta-minta. Dari suara sampai permainan musiknya, ternyata tidak kompeten,” kata Cahya.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, sebaran pengamen palsu ini terdeteksi menduduki beberapa ruang publik dan destinasi wisata favorit di Kota Mataram. Di antaranya kawasan Teras Udayana, Taman Loang Baloq, hingga sepanjang pesisir Pantai Ampenan. Di setiap lokasi, jumlah mereka diperkirakan mencapai belasan orang yang bergerak menyisir para pengunjung.
Baca Juga: Badut Lampu Merah Dipindah ke Kota Tua Ampenan
"Kalau kami lihat, para pengamen ini cukup banyak di Teras Udayana, Loang Baloq hingga Pantai Ampenan. Jumlahnya di bawah 10 orang di setiap titik," ungkapnya.
Untuk menjaga kenyamanan dan citra pariwisata daerah, Dispar memastikan bakal menyisir kawasan-kawasan tersebut dalam waktu dekat. Tindakan penertiban ini juga diiringi dengan peningkatan intensitas pengawasan harian agar area wisata tetap bersih dan steril dari aktivitas yang mengganggu.
Dalam pelaksanaannya, Dispar tidak bergerak sendiri. Pihaknya menginstruksikan personel Satuan Tugas (Satgas) Dispar serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat untuk memperketat patroli di lapangan.
"Kami akan lebih mem-push teman-teman Satgas Dispar dan Pokdarwis untuk tetap memonitor mereka," pungkasnya.
Baca Juga: Gagap Sebut Nama Pejabat, Badut Jalanan di Mataram Kepergok Catut Nama Dinsos
Senada dengan itu, Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Muzakkir Walad mengatakan, untuk menangani pengamen tersebut pihaknya berwacana untuk menyediakan wadah khusus. Agar para pengamen dan kreator kostum tetap bisa beraktivitas tanpa merugikan publik.
“Saat satgas turun penertiban, mereka memang mulai menghindar. Karena itu, kami merancang solusi permanen. Kita akan pusatkan mereka di Jalan Niaga Ampenan, mulai dari kawasan Huis, Taman Jangkar, sampai Pasar Asisi," ujarnya.
Muzakkir menjelaskan, konsep penataan di Jalan Niaga tersebut mengadopsi model penataan seni jalanan dan cosplay yang diterapkan di Jalan Asia Afrika serta Jalan Braga, Kota Bandung. Para pelaku wisata hiburan jalanan ini nantinya tidak lagi berjalan menyisir kendaraan atau mengetuk kaca mobil, melainkan bersiap secara statis di sepanjang trotoar setiap malam.
“Nanti mereka tidak keliling memakan badan jalan atau memaksa meminta uang. Mereka cukup diam di trotoar. Pengunjung kawasan Kota Tua Ampenan yang lewat bisa berfoto bersama mereka secara sukarela. Ini kita terapkan tiap malam, bukan hanya saat event tertentu," jelasnya. (chi)
Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Liputan