Uji Coba Rekayasa Jalan Dr Wahidin-Rembiga Diperpanjang

Chia • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 22:49 WIB
Petugas Dinas Perhubungan mengarahkan laju kendaraan saat pelaksanaan uji coba rekayasa lalu lintas di kawasan persimpangan Jalan Dr. Wahidin - Rembiga, Kota Mataram.
Petugas Dinas Perhubungan mengarahkan laju kendaraan saat pelaksanaan uji coba rekayasa lalu lintas di kawasan persimpangan Jalan Dr. Wahidin - Rembiga, Kota Mataram.

 LombokPost - Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (FLLAJ) NTB resmi memperpanjang masa uji coba rekayasa lalu lintas di kawasan Jalan Dr. Wahidin hingga Simpang Rembiga, Kota Mataram. Langkah ini diambil untuk mengurai kemacetan kronis serta menekan emisi gas buang kendaraan di koridor padat tersebut.

Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan (Dishub) NTB Baiq Musfiatin mengungkapkan, evaluasi menyeluruh akan kembali dilakukan bersama lintas sektor setelah penyusunan kajian teknis rampung.

"Uji cobanya tetap kami perpanjang sampai batas waktu yang nanti akan dievaluasi kembali. Karena FLLAJ NTB ini terdiri dari berbagai sektor, kami perlu melengkapi kajian-kajian sebelum mengambil keputusan final,” kata Musfiatin.  

Dalam skema rekayasa saat ini, kendaraan dari arah timur yang melalui Simpang Tiga Rembiga menuju Jalan Adi Sucipto diberlakukan satu arah ke barat. Pengendara yang hendak menuju Udayana dapat lurus secara langsung. Sementara itu, arus kendaraan ke arah utara (Gunung Sari dan Lombok Utara) diarahkan belok ke Jalan Auri, melintas di Jalan Dakota, hingga keluar di Simpang Tiga Dakota.

Baca Juga: Hari Pertama Langsung Mengalir! Intip Hasil Uji Coba Rekayasa Jalan Wahidin Rembiga

Untuk memperlancar arus, Jalan Dakota difungsikan sebagai sistem loop atau bundaran. Pengendara dari arah barat yang ingin ke timur harus memutar melalui Jalan Dakota sebelum berbelok kanan di Simpang Tiga Dakota dan belok kiri di Simpang Rembiga. Lampu lalu lintas di sisi barat pun dinonaktifkan total dan dipasang barikade air.

"Di Simpang Rembiga dari arah utara diberlakukan belok kiri dan kanan langsung. Bagi kendaraan dari arah selatan (Karang Baru) yang hendak ke timur, wajib memutar terlebih dahulu lewat Jalan Dakota," terangnya.

Berdasarkan pemodelan PTV Visum dan hasil survei lalu lintas di lapangan, penerapan skema ini terbukti efektif menghilangkan tundaan kendaraan akibat lampu merah. Selain kelancaran arus, rekayasa ini berdampak positif terhadap lingkungan.

"Hasil kalkulasi menunjukkan adanya efisiensi konsumsi BBM hingga 100 an liter per jam. Selain itu, emisi karbon monoksida (CO) buangan yang dikeluarkan kendaraan pada saat macet berkurang sekitar 1.900 gram per jam di area tersebut," tambah Musfiatin.

Meski pada jam sibuk pagi hari arus lalu lintas dari arah utara masih padat merayap, kendaraan dipastikan tetap mengalir tanpa tundaan total. Dishub NTB juga menyiagakan petugas di tiga titik krusial Simpang Tiga Auri, Simpang Empat Rembiga, dan Simpang Tiga Dakota untuk mengarahkan pengguna jalan.

Baca Juga: Polres Lobar Terapkan Rekayasa Lalin untuk Lebaran Topat, Pengguna Jalan Diminta Hindari Jalur Senggigi

Terkait keluhan masyarakat dan pelaku usaha sekitar, Musfiatin menilai hal tersebut wajar mengingat proses penyesuaian baru berjalan seminggu. Pihaknya berencana memperkuat sosialisasi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota (Dishub) Mataram, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), serta Dinas PU Provinsi untuk penataan infrastruktur permanen jika skema ini ditetapkan secara penuh.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengendalian dan Operasi (Dalops) Dishub Kota Mataram Arif Rahman menyatakan, secara keseluruhan arus kendaraan berjalan jauh lebih lancar dibanding pola lama yang mengandalkan alat pemberi isyarat lalu lintas (APIL).

“Meskipun rutenya terasa lebih jauh karena muter, dari segi kelancaran jauh lebih cepat karena tidak ada lagi hentian atau antrean lampu merah,” katanya.

Meski berdampak mengurai kemacetan, Dishub mengantongi sejumlah catatan dari hasil pemantauan di lapangan. Salah satu yang mendesak adalah perbaikan lubang jalan di sejumlah titik, seperti di depan retail Gogo, kerap memicu perlambatan arus kendaraan.

Selain itu, Arif menyoroti tingginya laju kendaraan di sepanjang Jalan Dr. Wahidin setelah terbebas dari hambatan lampu merah. Ketiadaan hambatan tersebut dinilai memicu potensi kecelakaan akibat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.

“Kami menyarankan penambahan marka garis ganda utuh agar pengendara dari arah utara tidak saling mendahului," tegasnya.

Catatan teknis lainnya mencakup penataan radius putar di Jalan Jenderal Sudirman yang dinilai belum memadai untuk kendaraan berukuran besar. Serta perlunya penambahan marka dan rambu penunjuk arah yang lebih informatif bagi pengguna jalan.

“Saran kami, skema ini sangat bagus untuk ditetapkan secara permanen. Namun, sosialisasi kepada masyarakat harus diperluas dan pemenuhan fasilitas pendukung jalan perlu dipercepat agar masyarakat semakin terbiasa dan keselamatan pengguna jalan tetap terjamin,” pungkasnya. (chi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Liputan
Kota Mataram jalan di perpanjang rekayasa jalan FLLAJ Mataram