LombokPost — Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram turun tangan merespons bencana gempa bumi magnitudo 7,7 SR yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) dini hari lalu.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menyampaikan duka mendalam atas bencana yang menelan puluhan korban jiwa tersebut.
“Insyaallah akan kita upayakan,” katanya.
Pemkot mulai menyiapkan sejumlah skema bantuan untuk membantu masyarakat terdampak di NTT. Mohan menjelaskan, langkah awal penyaluran bantuan akan berkolaborasi dengan paguyuban serta ikatan mahasiswa asal NTT yang berdomisili di Kota Mataram. Bantuan yang disiapkan mencakup dukungan logistik, materi, hingga pengiriman tenaga medis ke lokasi bencana.
Baca Juga: BCA Serahkan Bantuan Alat Medis di Lombok
“Nanti ada sumbangan melalui ikatan pelajar NTT yang ada di Mataram. Selain itu, kita berikan bantuan materi maupun pengiriman tenaga kesehatan ke sana,” katanya.
Aksi tanggap darurat ini merupakan wujud kepedulian dan solidaritas warga Kota Mataram terhadap masyarakat NTT yang tengah dilanda musibah. Pemkot berkomitmen untuk selalu hadir dan berkontribusi aktif setiap kali terjadi bencana di tanah air, sebagaimana bantuan yang pernah dikirimkan saat musibah besar di Aceh maupun Palu.
“Seperti bencana yang menimpa provinsi lain, Pemkot Mataram pasti mengambil bagian dan berperan serta. Kita upayakan bantuan materi maupun nonmateri atas dasar rasa kemanusiaan dan persaudaraan,” terangnya.
Baca Juga: LBH Dinamika Keadilan Resmi Diluncurkan di Mataram, Satu-satunya Bantuan Hukum Medis di NTB
Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu (16/8/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa tersebut mencapai 53 orang.
Sebaran korban jiwa meliputi Kabupaten Manggarai sebanyak 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Ende 2 orang, serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing 1 orang.
Selain itu, tercatat 137 warga mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat maupun posko medis darurat.
Gempa juga merusak ribuan bangunan. Data BNPB mencatat 1.543 rumah rusak berat, 328 rumah rusak sedang, dan 532 rumah rusak ringan. Fasilitas publik pun tidak luput dari dampak kerusakan, mencakup 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah, serta 76 kantor pemerintahan.
Terpisah, Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang menyatakan, Kota Mataram memiliki pemahaman mendalam terkait pemenuhan kebutuhan dasar korban gempa belajar dari peristiwa delapan tahun silam.
“Kebutuhan dasar masyarakat terdampak tentu tidak jauh berbeda dengan apa yang kita butuhkan dulu," katanya.
Meski jenis kebutuhan logistik dan penanganan medis memiliki kesamaan, proses pemetaan dan penyaluran ke NTT membutuhkan kecermatan ekstra. Faktor medan serta letak geografis wilayah terdampak menjadi perhatian utama Pemkot agar bantuan tiba tepat sasaran.
“Bisa jadi kondisi di sana jauh lebih tidak mudah, mengingat kondisi geografis dan topografis NTT relatif cukup berbeda dengan kita di sini," jelasnya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan