Kunjungan Wisatawan ke Mataram Semester I Anjlok

Chia • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:42 WIB
Sepasang pengunjung menikmati pemandangan matahari terbenam di Pantai Loang Baloq belum lama ini.
Sepasang pengunjung menikmati pemandangan matahari terbenam di Pantai Loang Baloq belum lama ini.

 

LombokPost - Kunjungan wisatawan ke Kota Mataram pada semester pertama tahun 2026 mengalami penurunan cukup signifikan jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu. Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Leni Oktavia mengungkapkan, tingkat kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara terdistribusi melambat.

“Iya lumayan, cukup signifikan,” katanya.

Leni menjelaskan, fluktuasi perekonomian dunia secara umum memberikan dampak langsung terhadap pola pergerakan perjalanan wisatawan domestik.

Tingginya tarif penerbangan nasional menjadi salah satu variabel penentu utama yang membuat calon wisatawan berpikir ulang untuk berlibur ke destinasi yang jauh, termasuk menuju ke Pulau Lombok dan Kota Mataram pada khususnya.

Baca Juga: Dispar Mataram Bakal Tertibkan Pengamen yang Resahkan Wisatawan

“Target kami di tahun 2026 ini memang tidak dipatok terlalu tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita harus realistis melihat kondisi secara umum,” ujarnya.

Sebagai pembanding, total kunjungan wisatawan ke Kota Mataram pada tahun lalu berhasil menembus angka 709.987 orang.

Angka tersebut didominasi oleh wisatawan nusantara sebanyak 688.626 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 19.573 orang, dengan akumulasi penjualan kamar hotel mencapai 392.896 unit.

Adapun tren kedatangan wisatawan asing biasanya mulai merangkak naik pada rentang Juli hingga September.

Sedangkan data per Juni ini, total akumulasi pergerakan wisatawan yang berkunjung tercatat sebanyak 339.206 orang.

Angka tersebut terdiri atas 330.546 wisatawan nusantara dan 8.660 wisatawan mancanegara, dengan akumulasi jumlah kamar hotel yang terjual sebanyak 183.719 unit.

Realisasi pada semester pertama ini terbilang melambat jika disandingkan dengan total capaian sepanjang tahun lalu.

“Tahun ini kita belum berani menyatakan kita bisa mencapai target yang seperti kita dapatkan di tahun sebelumnya,” jelasnya.

Selain faktor lonjakan harga tiket penerbangan, lesunya tingkat hunian kamar atau okupansi hotel di Mataram juga dipicu oleh minimnya penyelenggaraan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Kebijakan efisiensi anggaran di berbagai instansi pemerintah maupun lembaga swasta berdampak langsung pada para pelaku usaha perhotelan yang selama ini menggantungkan pendapatan utama dari agenda MICE.

Padahal, lanjut Leni, rentang waktu bulan Juli hingga Desember biasanya menjadi periode panen besar bagi para pengusaha perhotelan di Kota Mataram.

Penurunan persentase okupansi ini dirasakan sangat signifikan oleh hotel-hotel berbintang.

“Itu kan informasinya menurun sampai hampir 50 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, kondisi di segmen perhotelan kelas melati terbilang jauh lebih prihatin hingga tidak sedikit pengusaha yang terpaksa gulung tikar.

“Jadi tidak heran kalau mereka banyak tutup,” ucapnya.

Meski menghadapi tekanan, Kota Mataram dinilai masih memiliki daya tarik dan keunggulan komparatif tersendiri dibandingkan kawasan destinasi di kabupaten tetangga, seperti Senggigi di Lombok Barat maupun wilayah Lombok Tengah.

Aksesibilitas kawasan perkotaan serta kemudahan dalam berburu ragam kuliner khas menjadi pertimbangan strategis para tamu untuk memutuskan menginap di Kota Mataram.

Untuk mendongkrak kembali pergerakan angka kunjungan di sisa tahun ini, Pemkot menaruh harapan besar pada perhelatan ajang balap internasional MotoGP yang akan kembali digelar di Sirkuit Mandalika pada bulan Oktober mendatang.

Keberadaan event skala dunia tersebut diyakini mampu menstimulus lonjakan okupansi perhotelan dan menggairahkan kembali industri pariwisata daerah.

Baca Juga: Festival Malaka Lestarikan Budaya Bahari, Promosikan Wisata Pesisir

“Kami tetap optimis event besar seperti MotoGP yang sebentar lagi digelar dapat menambah jumlah wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, sekaligus meningkatkan okupansi hotel kita di tahun 2026 ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Asosiasi Hotel Mataram (AHM) Rega Fajar Firdaus, mengatakan tahun ini memang sangat terasa penurunan kunjungan. Hal tersebut imbas dari efisiensi belanja daerah yang memengaruhi kegiatan perhotelan, terutama agenda pertemuan.

“Kita akui efisiensi belanja daerah ini berdampak. Kegiatan meeting tidak seramai dulu. Padahal, periode bulan Agustus sampai 15 Desember ini seharusnya menjadi masa ‘panen raya’. Saat ini kita masih menunggu anggaran perubahan,” ucapnya. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
wisata mataram kota matara AHM Mataram Dispar