LombokPost - Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kota Mataram terus memacu daya saing produk lokal melalui inovasi desain perhiasan khas daerah. Setelah sukses memperkenalkan bros Sangkareang untuk pria, Pemkot Mataram saat ini membidik segmentasi pasar yang lebih luas dengan memproduksi bros bermotif tembolak yang telah terdaftar dalam Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI).
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kota Mataram Jemmy Nelwan, menegaskan langkah ini diambil untuk memastikan kerajinan mutiara Mataram memiliki identitas otentik sekaligus perlindungan hukum. Penguatan kapasitas pengrajin difokuskan pada pengolahan desain mutiara yang dipadukan dengan ikon budaya lokal.
“Desain mutiara yang kemarin kita buat itu bros Sangkareang untuk laki-laki. Yang sekarang kita buat itu yang sudah ada HaKI-nya, yaitu bros Tembolak,” kata Jemmy.
Untuk mengeksekusi strategi tersebut, Pemkot menggelar pelatihan desain mutiara secara intensif selama tiga hari. Sebanyak 35 pengrajin potensial yang mewakili seluruh kecamatan di Kota Mataram dilibatkan. Untuk menjaga mutu dan standar produk, kegiatan ini menghadirkan langsung Ketua Asosiasi Mutiara Kota Mataram sebagai mentor utama.
“Jumlah peserta pelatihan desain mutiara ini ada 35 orang dari semua kecamatan se-Kota Mataram,” tambahnya.
Tidak hanya menggembleng sisi produksi dan estetika, Pemkot juga menyelaraskan program ini dengan penguatan rantai pemasaran. Sebanyak 25 pelaku UMKM diberikan pembekalan khusus mengenai literasi dan pemasaran digital. Pelatihan digital ini dirancang agar para pengrajin mampu mengemas narasi produk melalui konten promosi visual yang menarik serta mahir mengoperasikan platform marketplace digital.
“Percuma kalau mereka punya produk bagus, tapi tidak tau cara memasarkan dan promosi. Itu yang penting,” jelasnya.
Jemmy menekankan, keterampilan teknis merancang perhiasan harus sejalan dengan kemampuan menguasai pasar modern. Tanpa strategi pemasaran, nilai tambah dari produk ber-HaKI seperti bros Tembolak tidak akan tersampaikan secara optimal ke konsumen global.
Baca Juga: Incar Pasar Gen Z, Suzuki S-Presso Tawarkan Solusi Mobil Pertama yang Hemat dan Serba Digital
“Itu yang buat pembeli tau dan minat,” ucapnya.
Seluruh rangkaian program peningkatan kapasitas dan komersialisasi produk kerajinan lokal ini didukung penuh oleh alokasi anggaran daerah. Jemmy mengungkapkan, kegiatan penjaminan mutu dan pelatihan usaha ini didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2026 dengan total plafon mencapai Rp 2 miliar.
“Iya ini termasuk DBHCHT itu,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan