LombokPost- Predikat Kota Siaga Stroke yang kini disandang Kota Mataram bukan capaian yang dibangun dalam waktu singkat. Tim ANGELS Initiative telah melakukan pendekatan dan pendampingan terhadap RSUD H. Moh. Rusla Kota Mataram sejak sekitar 2019 hingga 2021.
Perjalanan tersebut kemudian berbuah status Stroke Ready Hospital dan menjadi salah satu fondasi bagi Mataram untuk memperoleh pengakuan sebagai Kota Siaga Stroke kedua di Indonesia. “Untuk rumah sakit RSUD Ruslan sendiri, kita approach dari tahun 2019-2021,” kata Team Leader ANGELS untuk Indonesia, Rika Aprijanti Hutagalung, Senin (31/8).
Menurut Rika, proses tersebut kemudian berkembang hingga RSUD Ruslan memperoleh status pertama pada 2023. Penilaian tidak berhenti setelah status diperoleh, karena performa rumah sakit terus dipantau melalui audit berkala yang dilakukan setiap kuartal.
Salah satu alasan RSUD Ruslan dinilai memenuhi standar stroke ready hospital adalah capaian indikator pelayanan stroke. Rika menyebut angka reperfusi di rumah sakit tersebut telah berada di atas 25 persen.
“Kemudian secara quality door to needle time-nya sudah kurang dari 45 menit,” jelasnya.
Door-to-needle time merupakan ukuran waktu yang menggambarkan seberapa cepat pasien stroke yang memenuhi indikasi mendapatkan terapi trombolisis setelah tiba di rumah sakit. Kecepatan tersebut menjadi penting karena penanganan stroke sangat bergantung pada waktu.
Rika mengatakan, capaian indikator tersebut menjadi bagian dari proses penilaian untuk memastikan RSUD Ruslan memiliki kesiapan dalam menangani pasien stroke secara cepat dan tepat. Selain capaian klinis, proses penilaian juga dilakukan langsung oleh WSO.
Baca Juga: RSUD Ruslan Mataram Raih Diamond Status Penanganan Stroke WSO
Evaluasi berkala itu menjadi bagian dari mekanisme penghargaan yang diberikan kepada rumah sakit dalam program ANGELS Initiative. “Untuk proses auditnya, mereka melakukan setiap kuartal dan ini dinilai langsung oleh WSO, World Stroke Organization,” ujarnya.
ANGLES Consultant wilayah Mataram, Jiddin Abdullah, mengatakan penilaian tersebut memiliki arti penting karena status yang diberikan bukan sekadar pengakuan lokal. Penghargaan WSO-Angels merupakan bagian dari sistem penilaian penanganan stroke yang berlaku secara global.
RSUD Ruslan bahkan disebut telah mencapai Diamond Hospital, level tertinggi dalam jenjang penghargaan tersebut. “Tapi Diamond status itu adalah kriteria paling tinggi untuk penatalaksanaan stroke,” kata Jiddin.
Menurut Jiddin, status tersebut mencerminkan penanganan stroke yang telah dibangun secara menyeluruh di RSUD Ruslan. Sistemnya tidak hanya berorientasi pada penanganan pasien saat berada di rumah sakit, tetapi juga mencakup proses pengenalan hingga tahap pemulihan.
“Penanganan stroke-nya di rumah sakit, di RSUD Ruslan sudah sangat komprehensif dari pengenalan, penanganan sampai dengan nanti rehabilitasi sudah sangat terorganisir dengan baik,” ujarnya.
Perjalanan panjang tersebut menjadi salah satu alasan mengapa predikat Kota Siaga Stroke Mataram kemudian tidak berdiri hanya pada capaian rumah sakit. Sistem penanganan stroke juga harus terhubung dengan layanan kegawatdaruratan dan kemampuan masyarakat mengenali gejala stroke.
Bagi ANGELS, keberhasilan rumah sakit mempertahankan kualitas layanan menjadi bagian penting dari tujuan program. Sebab, standar penanganan stroke harus terus dijaga agar pasien memperoleh kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pertolongan tepat waktu.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post