LombokPost– Predikat Kota Siaga Stroke yang disandang Kota Mataram tak sekadar menjadi pengakuan atas keberhasilan menangani pasien stroke. Di balik predikat tersebut terdapat standar penanganan berjenjang yang dinilai langsung secara berkala oleh World Stroke Organization (WSO).
RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram bahkan telah mencapai Diamond Status. Level tertinggi dalam standar penatalaksanaan stroke yang diterapkan melalui ANGELS Initiative.
“Diamond status itu adalah kriteria paling tinggi untuk penatalaksanaan stroke,” kata ANGELS Consultant untuk wilayah Mataram Jiddin Abdullah, Senin (31/8).
Jiddin menjelaskan, penghargaan WSO bersama ANGELS Initiative memiliki tiga tingkatan. Gold, Platinum, dan Diamond.
Pencapaian Diamond menunjukkan penanganan Ruslan telah berlangsung secara komprehensif. Mulai dari pengenalan kondisi pasien, penanganan medis hingga tahap rehabilitasi.
“Penanganan stroke-nya di rumah sakit, di RSUD Ruslan sudah sangat komprehensif dari pengenalan, penanganan sampai dengan nanti rehabilitasi sudah sangat terorganisir dengan baik,” ujarnya.
Standar tersebut tidak diberikan hanya berdasarkan kelengkapan fasilitas. Kinerja layanan juga menjadi bagian dari penilaian. Team Leader ANGELS untuk Indonesia, Rika Aprijanti Hutagalung, menyebut salah satu indikator yang menonjol dari RSUD Ruslan adalah angka reperfusi di atas 25 persen serta kualitas door-to-needle time yang telah berada di bawah 45 menit.
Baca Juga: Kapolri: Pramuka Harus Jadi Generasi Peduli dan Bermanfaat bagi Masyarakat
“Angka reperfusi saja memang di atas 25 persen, kemudian secara quality door to needle time-nya sudah kurang dari 45 menit,” jelas Rika.
Menurut Rika, capaian tersebut menunjukkan kesiapan RSUD Ruslan dalam memberikan penanganan stroke secara cepat dan sesuai standar. Proses untuk mencapai kondisi tersebut juga tidak dibangun dalam waktu singkat.
ANGELS telah melakukan pendekatan kepada RSUD Ruslan sejak sekitar 2019 hingga 2021. Rumah sakit tersebut kemudian memperoleh status pertamanya pada 2023 dan terus menjalani proses evaluasi untuk mempertahankan kualitas pelayanan.
Penilaian dilakukan setiap kuartal dan melibatkan WSO sebagai organisasi stroke tingkat dunia. Dengan mekanisme tersebut, kualitas pelayanan tidak hanya dinilai sekali ketika penghargaan diberikan, tetapi terus dipantau dari waktu ke waktu.
“Penilaiannya itu ada timeline-nya per kuartal. Jadi setiap tiga bulan itu dievaluasi lagi,” kata Jiddin.
Evaluasi berkala tersebut menjadi bagian penting menjaga standar penanganan stroke. Rumah sakit yang tidak mampu mempertahankan indikator dapat mengalami penurunan status, dari Diamond ke Platinum atau Gold, bahkan tidak mendapatkan penghargaan pada periode berikutnya.
“Tujuan dari program Angels Initiative secara global adalah untuk menyelamatkan pasien dari stroke, menyelamatkan dari meninggal ataupun cacat karena stroke,” tegasnya.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. Ni Ketut Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp. F.E.R., M.Kes., M.Sc., mengatakan capaian tersebut harus menjadi motivasi untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. Predikat yang diperoleh Mataram tidak boleh membuat layanan berhenti pada pencapaian yang sudah ada.
Menurut dr. Eka, rumah sakit harus terus membaca persoalan yang muncul dalam pelayanan kemudian mencari solusi melalui pengembangan dan inovasi. “Harapannya kita tetap bisa mempertahankan supaya pelayanan terhadap masyarakat bisa tetap berlanjut bahkan bisa ditingkatkan lagi. Tetap kita berinovasi. Inovasi itu kan jawaban dari masalah yang kita dapatkan di lapangan,” tandasnya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post