LombokPost - Kehadiran ratusan pedagang musiman yang meluber hingga ke area parkir membuat kawasan Pasar Kebon Roek semakin padat dan menyempit. Fenomena yang memuncak setiap musim panen dan perayaan hari besar keagamaan ini mendesak pengelola pasar untuk segera menata ulang serta mengembalikan fungsi area parkir.
Kepala Pasar Kebon Roek Malwi mengungkapkan, kepadatan di area luar pasar dipicu oleh melonjaknya aktivitas puluhan hingga ratusan pedagang yang datang sewaktu-waktu.
“Pedagang yang di depan dan parkiran itu makin banyak karena tergantung musim, seperti saat musim sayur melimpah atau jelang perayaan Maulid Nabi,” kata Malwi.
Berdasarkan data pengelola, terdapat sedikitnya 228 pedagang tidak tetap yang saat ini memadati area luar dan bahu jalan pasar. Malwi menegaskan, pihaknya kini tengah mengupayakan relokasi agar area parkir tidak lagi berdesakan.
“Pedagang yang menumpuk di parkiran ini rencana mau kita masukkan ke dalam los agar area luar tidak makin padat," katanya.
Meski demikian, rencana pemindahan tersebut masih terkendala oleh proses perbaikan fasilitas los di bagian dalam yang belum rampung sepenuhnya.
“Tempatnya masih kita perbaiki, pedagang belum siap masuk kalau tempat di dalam belum layak dan rapi," tambahnya.
Masalah keterbatasan daya tampung los juga menjadi tantangan utama pengelola dalam mengurai penumpukan pedagang di area parkir. Los baru yang dibangun ini baru ada 160 unit ukuran 2x2 meter.
“Padahal, pedagang yang di luar ada 228 orang, jadi tentu belum bisa tertampung semua dan harus kita atur ulang kembali,” jelasnya.
Untuk mengatasi dampak kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas akibat kepadatan pedagang di luar tembok pasar, pengelola menggandeng instansi terkait.
“Kami sudah bangun kerja sama dengan Dinas Perhubungan untuk sama-sama menertibkan pedagang yang berjualan meluber ke jalan," tuturnya.
Di balik masalah kepadatan kawasan, Malwi tak menampik aktivitas ratusan pedagang musiman ini menopang pencapaian retribusi harian pasar sebesar Rp 2,26 juta per hari.
“Sesuai aturan, pedagang di dalam area pasar wajib bayar retribusi Rp seribu per meter per hari, dan tarikan pedagang tidak tetap inilah yang justru menutup target harian kami," pungkasnya.
Malwi menjelaskan bahwa di sisi lain, banyak los di dalam pasar yang ditinggalkan atau hanya dijadikan gudang oleh pemiliknya karena sepi pembeli akibat dampak platform digital. Yang menggunakan los dengan ukuran 20 meter dan tarif harusnya Rp 20 ribu per hari.
“Pedagang tidak tetap itulah yang menutup tagihan retribusi dari pedagang yang tutup itu,” pungkasnya.
Baca Juga: Kalah Saing dengan Online Shop, Realisasi Retribusi Pasar Mataram Masih Rendah
Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Irwan Harimansyah mengatakan retribusi per Mei ini mencapai sekitar Rp 2,887 miliar lebih atau setara 35 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp 8,250 miliar pada tahun anggaran 2026.
“Memang untuk tahun ini trennya sedikit menurun dari tahun sebelumnya,” jelasnya. (chi)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan