Penyakit Kronis Jadi Kendala Penanganan Stunting

Chia • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:31 WIB
Petugas kesehatan dari Posyandu sedang mendampingi seorang anak saat proses skrining tumbuh kembang anak.
Petugas kesehatan dari Posyandu sedang mendampingi seorang anak saat proses skrining tumbuh kembang anak.

LombokPost - Penanganan kasus stunting di Kota Mataram tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra.

Pasalnya, sebagian besar balita yang masih bertahan dalam kondisi stunting memiliki penyakit penyerta atau penyakit kronis yang menyertai tumbuh kembang mereka.

“Intervensi stunting ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Kita tidak bisa melakukan intervensi secara cepat terhadap anak-anak yang kondisi dasarnya memiliki penyakit kronis,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan.

Emirald mengungkapkan, intervensi medis untuk balita dengan penyakit penyerta memerlukan penanganan klinis secara bertahap. Hal ini membuat angka penanganan tidak bisa merosot drastis dalam waktu singkat.

Baca Juga: Jurus Jemput Bola Camat Gunungsari dan Kuripan Tangani Stunting

Meski begitu, tren kasus stunting di Ibu Kota Mataram terus menunjukkan progres positif. Berdasarkan data per Juli, prevalensi stunting Kota Mataram berhasil ditekan ke angka 5,3 persen, turun dari posisi sebelumnya yang berada di angka 5,5 persen.

Secara kuantitas, jumlah balita stunting di Kota Mataram kini menyisakan sekitar 1.000 anak. Dikes menargetkan angka tersebut dapat terus dipangkas hingga berada di bawah 5 persen pada akhir tahun ini.

Emirald menambahkan, hingga saat ini tidak ada wilayah atau kelurahan di Kota Mataram yang masuk dalam kategori zona merah penanganan stunting. Kasus tertinggi yang masih bertahan tercatat berada di wilayah Kecamatan Sekarbela, namun kondisinya tetap terkendali.

“Tidak ada istilah zona merah lagi karena secara umum kita sudah mencapai target yang sangat bagus. Fokus kita sekarang adalah menurunkan angka yang tersisa ini,” tegasnya.

Terkait dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan sarana penunjang, Dikes memastikan tidak menemui kendala berarti. Untuk mempercepat penanganan, Dikes juga berencana memperluas kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya dalam menyasar faktor ekonomi dan kesejahteraan keluarga balita.

Baca Juga: Cegah Stunting Sejak Dini, POGI NTB dan Pegadaian Perkuat Layanan Ibu Hamil Lewat Merdeka Stunting

“Kita optimis targetnya bisa ditekan sampai di bawah 5 persen,” ucapnya.

Terpisah, Camat Sekarbela Arief Satriawan, mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi intensif dengan TP PKK kecamatan, dinas terkait, serta tenaga kesehatan untuk memastikan program penanganan stunting berjalan efektif dan tepat sasaran.

“Kami memaksimalkan peran posyandu sebagai garda terdepan. Proses skrining dilakukan dari sana, sekaligus penyaluran makanan tambahan (MT) bagi balita yang membutuhkan,” katanya.

Arief mengungkapkan, dari lima kelurahan yang ada di Kecamatan Sekarbela, kasus stunting tertinggi masih ditemukan di Kelurahan Jempong Baru dan Karang Pule. Oleh karena itu, kedua wilayah tersebut menjadi prioritas dalam pelaksanaan program intervensi, baik melalui peningkatan layanan kesehatan maupun edukasi kepada masyarakat.

“Rata-rata dipengaruhi faktor ekonomi, sehingga kami juga bersinergi dengan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) untuk memberikan pendampingan kepada keluarga,” jelasnya. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
OPT MT Mataram sdm Stunting