LombokPost- MESIN tersebut tidak dibuat untuk mengejar tampilan mewah. Yang dicari justru manfaatnya.
Lurah Karang Taliwang Lalu Halit Wahyu Jati mengatakan, alat tersebut lahir dari kreativitas inovator lokal memanfaatkan material yang masih bisa digunakan. “Alat pengadonan serba guna sama juga menggunakan bahan-bahan bekas, bahan-bahan sisa yang kemudian kami rangkai, kami rakit berdasarkan inovator kami,” terangnya, Jum'at (4/9).
Cara kerjanya pun cukup sederhana. Bahan dimasukkan ke dalam alat. Mesin kemudian melakukan proses pengadonan secara mekanis.
Tenaga manusia tidak lagi sepenuhnya digunakan mengaduk dari awal hingga selesai. Salah satu penggunaannya mengolah bahan pangan berbasis kacang-kacangan.
Baca Juga: MAN 2 Mataram Borong Juara Lomba Cerdas Keuangan OJK NTB
Kacang dapat dicampur dengan tepung dan kanji. Kanji berfungsi sebagai bahan perekat dalam adonan.
“Alat pengadonan ini kita gunakan untuk pembuatan semacam kacang-kacangan yang kita bisa campur dengan tepung dan kanji sebagai perekatnya,” jelasnya.
Bagi pelaku UMKM, pekerjaan seperti mengaduk adonan sebenarnya cukup menguras tenaga. Apalagi jika bahan yang digunakan banyak atau memiliki tekstur berat.
Tangan harus terus bekerja. Waktu pun ikut tersita.
Tapi dengan bantuan mesin, sebagian pekerjaan bisa dialihkan kepada mekanisme penggerak.
Baca Juga: DPRD Kota Mataram Hati-Hati Sikapi Wacana Penyesuaian Gaji Kepala Daerah
Tenaga yang sebelumnya habis mengaduk bisa digunakan untuk pekerjaan lain. Menyiapkan bahan. Mencetak. Mengemas.
“Atau melayani pemasaran produk,” terangnya.
Di situlah teknologi tepat guna menemukan manfaatnya. Gerakan mesin itu mampu membantu pekerjaan manusia.
Halit mengatakan, alat tersebut juga masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pengadonan lainnya. Artinya, penggunaannya tidak berhenti pada satu jenis produk.
Baca Juga: MAN 2 Mataram Borong Juara Lomba Cerdas Keuangan OJK NTB
“Jadi selain untuk kacang-kacangan, ini bisa kita gunakan untuk kebutuhan pengadonan lainnya,” terangnya.
Namun bagi Halit, tantangan berikutnya justru memastikan alat tersebut tidak berhenti sebagai prototipe dalam ajang Teknologi Tepat Guna atau TTG. Ia ingin alat itu bisa dikembangkan.
Diproduksi lebih banyak. Lalu digunakan oleh masyarakat yang lebih luas.
“Dua inovasi yang coba kami dorong supaya nanti bisa diproduksi banyak untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Sebab semakin sederhana pekerjaan yang bisa dibantu mesin, semakin banyak tenaga yang bisa dialihkan untuk kegiatan produktif lainnya. “Terutama kepada ibu-ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pelaku UMKM,” katanya.
Baca Juga: Bulog NTB Pastikan Harga MinyaKita Sesuai Ketentuan HET Rp 15.700
Dari barang bekas, lahirlah sebuah alat produksi. Sebuah alat mampu menjawab kebutuhan.
“Yang paling penting bagaimana alat ini bisa membantu masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post