LombokPost- NAMUN mesin itu bukan keluaran pabrik besar. Alat tersebut merupakan hasil inovasi teknologi tepat guna yang dikembangkan di Kelurahan Karang Taliwang, Kota Mataram.
Fungsinya satu. “Membantu masyarakat melakukan proses penyangraian,” terang Lurah Karang Taliwang Lalu Halit Wahyu Jati, kemarin (3/9).
Kacang-kacangan bisa. Kedelai bisa. Bahkan kopi juga dapat diproses menggunakan alat tersebut.
Halit mengatakan, alat itu dirancang dengan kapasitas sekitar satu kilogram dalam sekali proses. “Kita buat melihat dan memadukan kearifan lokal dan teknologi sehingga kearifan lokalnya ada, kemudian teknologinya itu ada,” katanya.
Baca Juga: Siswa SRMP 18 Lobar Juara OSN IPS, Aulia Khairunnisa Tembus Podium Pertama
Ukuran mesinnya memang cukup besar. Namun kapasitas bahan yang diproses tidak harus memenuhi seluruh ruang drum.
Justru ruang tersebut dibutuhkan agar bahan dapat bergerak selama proses pemanasan. Mekanisme itulah yang membuat proses sangrai tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tangan manusia.
Bahan tidak hanya dibiarkan berada di satu titik. Drum bergerak. Bahan ikut berputar.
“Panas pun diharapkan lebih merata,” jelasnya.
Konsep tersebut menjadi penting ketika alat digunakan untuk produksi pangan. Sebab kacang atau kopi yang terlalu lama berada di satu titik panas bisa cepat gosong.
Baca Juga: Gaji PPPK Paro Waktu Berpotensi Diambil Alih Pusat, APBD Mataram Bisa Lebih Longgar
Sementara bagian lainnya belum tentu matang sempurna. Nah, Karang Taliwang mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan mekanisme yang relatif sederhana.
Membuat alat yang bisa dipakai dan dirawat oleh masyarakat. Halit menyebut kebutuhan terhadap alat sangrai juga berkaitan dengan biaya produksi.
Terutama bagi masyarakat yang selama ini masih mengandalkan cara tradisional. “Dengan kondisi sekarang keterbatasan alat sangrai yang seperti bahan-bahan sangrai, misalnya seperti kayu bakar dan sebagainya. Ini bisa meminimalisasi juga biaya-biaya yang ditimbulkan,” ujarnya.
Proses pemanasan dibuat lebih terkontrol. Pekerjaan mengaduk bahan juga tidak sepenuhnya dilakukan secara manual.
Baca Juga: Gara-gara NIK Dicaplok Pengembang! Warga Miskin di Mataram Tiba-tiba Coret dari Daftar Bansos
Bagi pelaku UMKM, perubahan kecil semacam itu bisa berarti banyak. Sebab semakin konsisten proses produksi, semakin mudah pula menjaga kualitas produk.
Apalagi alat tersebut tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan rumah tangga. Ibu-ibu pelaku UMKM juga menjadi sasaran pemanfaatannya.
Mereka bisa menggunakannya mengolah bahan sebelum masuk ke tahap produksi berikutnya. Halit mengatakan, teknologi tepat guna memang seharusnya kembali kepada kebutuhan masyarakat.
Bukan sekadar menjadi mesin yang terlihat canggih saat dipamerkan. “Yang paling penting bagaimana alat ini bisa membantu masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pelaku UMKM,” katanya.
Dari luar, mesin itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi ada gagasan besar di balik rangka besi, motor penggerak, dan drum sangrainya.
Baca Juga: HUT ke-108 SDN 3 Mataram, Rayakan Maulid Nabi dan Berbagi Sembako
Bahwa teknologi tidak selalu harus dibeli mahal. Kadang, teknologi bisa dimulai dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan warga.
Dari kebutuhan menyangrai kacang. Dari kebutuhan mengolah kopi.
“Yang paling penting bagaimana alat ini bisa membantu masyarakat,” katanya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post