Ini Pesan Menyentuh Wali Kota Mohan di Masjid Pusaka Pagutan

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 14:36 WIB
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Pusaka Al-Hamidy, Pagutan
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Pusaka Al-Hamidy, Pagutan

 

 

 

 

KISAH tentang Rasulullah diwariskan dari generasi ke generasi. Risalahnya dibaca.

Sifat-sifatnya diceritakan. Dan kecintaan kepada beliau terus tumbuh, meski jarak waktu dengan kehidupan Rasulullah SAW terbentang lebih dari seribu tahun.

“Kalau ada perjumpaan, kemudian kita dicintai orang lain dan kita juga mencintai orang lain, itu disebut empati,” kata Wali Kota Mataram Mohan Roliskana saat menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Pusaka Al-Hamidy, Pagutan, Kamis (10/9).

Bagi Mohan, kecintaan kepada Rasulullah memiliki keistimewaan tersendiri. Sebab umat Islam mencintai sosok yang tidak pernah mereka temui secara langsung.

“Tetapi jika kita mencintai orang lain karena fisik dan penampilannya, itu disebut simpati,” lanjutnya.

Namun cinta kepada Rasulullah berada pada ruang yang berbeda. Umat Islam mengenal beliau melalui kisah dan risalah.

 

Baca Juga: Abaikan Surat Peringatan, 63 Jukir di Mataram Kena Sanksi Tegas

Tidak pernah melihat langsung. Tidak pernah mendengar suara beliau.

Tetapi rasa cinta itu tetap begitu kuat. “Satu hal yang luar biasa bagi kita semua, bahwa kita tidak pernah berjumpa, mendengar suaranya pun tidak. Kita hanya mendengar kisahnya dan risalahnya, tetapi kecintaan kita luar biasa kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.

Bagi Mohan, itulah cinta yang sebenar-benarnya cinta. Namun cinta tidak cukup hanya diucapkan.

Ia harus memiliki bentuk. Salah satunya dengan meneladani sifat Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih ketika kehidupan manusia kini bergerak begitu cepat. Teknologi informasi membuat berbagai hal dapat hadir dalam hitungan detik.

Informasi datang tanpa henti. Begitu pula berbagai pengaruh yang menyertainya.

Karena itu, menurut Mohan, generasi muda membutuhkan pegangan. “Oleh sebab itu, mari kita terus meneladani dan menerapkan sifat-sifat Rasulullah dalam kehidupan kita sehari-hari,” ajaknya.

Bukan untuk menolak perubahan zaman. Tetapi agar perubahan tidak membuat manusia kehilangan arah.

“Jangan sampai perubahan zaman membuat anak-anak muda kita kehilangan arah dan menjauh dari etika serta nilai-nilai yang telah diajarkan Rasulullah SAW,” ujarnya.

 

Baca Juga: Suami Wafat Sebelum Umrah, Istri Lanjutkan Kesempatan dari Grab

Di situlah Maulid Nabi memiliki arti lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi kesempatan untuk kembali membuka kisah kehidupan Rasulullah.

“Harapannya kita senantiasa menjaga rasa cinta yang tulus kepada Rasulullah SAW, mempererat ukhuwah, serta memperoleh syafaat beliau,” ujarnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Rilis
Maulid Nabi Mataram Mohan Roliskana Masjid Pusaka Al Hamidy Pagutan Keteladanan Rasulullah Era Digital