MIRA Cahyati sudah bersiap pulang. Hadiah-hadiah doorprize telah dibagikan.
Teman-temannya mulai beranjak meninggalkan Lapangan Sangkareang. Bagi Mira, jalan sehat dalam rangka Semarak HUT ke-33 Kota Mataram pada Jumat (4/9) itu sudah selesai.
“Tadi berpikir, kalau beruntung bisa bawa pulang televisi,” ucapnya kemudian.
Tapi saat pengundian dan ternyata bukan namanya yang dipanggil untuk hadiah televisi, ia pun bersiap pulang. Ia tak lagi menunggu apa-apa.
“Di rumah, memang belum memiliki televisi,” ungkapnya.
Bahkan sebelum berangkat, ia sempat menitip doa sederhana kepada suaminya. “Tadi saya bilang sama suami, tolong doakan kupon ini, siapa tahu kita bisa dapat TV,” ceritanya.
Tetapi hidup kadang punya cara sendiri. Mengubah doa sederhana menjadi cerita jauh lebih besar.
Baca Juga: Lahan Kosong Samping Kantor Wali Kota Mataram Terbakar
Ketika Mira hampir benar-benar pulang, suara Wali Kota Mataram Mohan Roliskana kembali terdengar. Ternyata ada hadiah tambahan.
Sebuah hadiah yang barangkali tak pernah masuk dalam daftar harapan Mira pagi itu. Umrah.
Mira masih menggenggam kuponnya. Dan beberapa saat kemudian, namanya disebut: Mira Cahyati.
Seolah pagi itu sengaja menahannya beberapa menit lebih lama di Lapangan Sangkareang. Seolah langkahnya yang hampir menuju pintu pulang harus berhenti sebentar, karena ada kabar yang sedang menunggunya.
Ia mendapatkan hadiah umrah dalam kegiatan Jalan Sehat Perkuat Kebersamaan Jajaran Pemerintah Kota Mataram. Hadiah itu sontak mengubah suasana hatinya.
“Alhamdulillah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Bukan lagi tentang televisi. Bukan lagi tentang doorprize. Tetapi tentang perjalanan menuju Tanah Suci yang mungkin selama ini hanya hidup sebagai impian.
Yang membuat kisah Mira terasa semakin dalam adalah apa yang terjadi sebelum namanya dipanggil. Ia kemudian bertanya kepada suaminya.
“Doa apa yang tadi dipanjatkan untuk kupon tersebut?” ujarnya.
Baca Juga: Kapal Virgo Transport 8 Tenggelam di Laut Jawa, 140 Orang Masih Dicari
Jawabannya membuat Mira semakin terharu. Sang suami ternyata tidak secara khusus meminta televisi.
Tidak pula meminta hadiah tertentu. “Ia hanya berdoa agar kami diberi rezeki yang halal dan dijauhkan dari rezeki yang haram,” ucapnya.
Doa itu sederhana. Namun pagi itu, jawabannya datang dengan cara tak disangka.
“Tak pernah kami bayangkan,” ucapnya haru.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Rilis