LombokPost - Berbeda dengan musim penghujan yang didominasi sampah kiriman dari wilayah hulu, fenomena sampah sungai di musim kemarau saat ini justru didominasi oleh sampah lokal masyarakat sekitar.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning, mengungkapkan surutnya debit air sungai memperlihatkan tingginya volume sampah warga yang dibuang langsung ke aliran air.
“Kalau dulu ada air yang mengelontorkan sampah dari hulu ke hilir. Ternyata sekarang yang kita lihat bukan sampah kiriman karena air tidak ada. Ini sampah lokal, potensionya sangat tinggi,” katanya.
Lale mengaku heran sekaligus prihatin dengan kondisi tersebut. Ia menyayangkan kesadaran sebagian warga yang masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Kondisi ini dinilai sangat menyulitkan petugas di lapangan karena sebaran sampah terjadi secara merata.
"Ini sangat menyulitkan kita. Sampahnya merata dari titik awal perbatasan dengan Lombok Barat sampai ke hilir. Mau tidak mau, kita harus angkat sedikit demi sedikit," jelasnya.
Perbedaan mencolok juga terlihat pada mekanisme pembersihan. Saat musim hujan, petugas PUPR cukup menghadang dan menangkap sampah di beberapa titik penampungan menggunakan jaring penyekat. Namun, ketika musim kemarau, sampah menyebar dan mengendap di sepanjang aliran sungai.
Untuk mengatasi penumpukan ini, Dinas PUPR memaksimalkan armada dan personil yang ada. Lale menyebutkan, sebanyak tujuh unit dump truck dikerahkan setiap hari untuk mengangkut sampah sungai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok. Satu unit dump truck diperkirakan mampu mengangkut hingga empat kubik sampah.
“Setiap dump truck bisa melakukan beberapa kali rit pengangkutan dalam sehari. Jika dihitung, volume sampah yang harus dibersihkan bisa meningkat hingga 10 kali lipat dibanding kondisi normal," paparnya.
Meski demikian, Lale mengakui upaya pembersihan sungai memiliki keterbatasan, terutama terkait jumlah armada dan jam kerja petugas yang dibatasi dari pukul 08.00 hingga 16.00 WITA.
“Keterbatasan armada dan jam kerja petugas tentu berpengaruh. Namun, bagaimanapun juga ini adalah tugas kami demi menjaga kebersihan lingkungan kota,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi, mengatakan penanganan sampah sungai butuh kolaborasi dan kesadaran ekstra dari masyarakat sekitar. Terlebih di tengah musim kemarau.
Menurutnya, penumpukan sampah lokal tidak hanya memperburuk estetika kota, tetapi juga berpotensi memicu pendangkalan dan bahaya banjir saat memasuki musim hujan mendatang.
“Ada namanya TPS Mobile, masyarakat bisa buang sampah langsung ke sana, bukan ke sungai,” katanya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan