Melukis Langsung di Alam, Farisian Manfaatkan Pasar Digital

Chia • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 08:10 WIB

 

 

Farisian Narazi memperhatikan deretan lukisan lanskap lanskap alam berteknik en plein air karyanya yang dipajang dalam pameran seni Revival oleh Lombok Art Community (LAC).
Farisian Narazi memperhatikan deretan lukisan lanskap lanskap alam berteknik en plein air karyanya yang dipajang dalam pameran seni Revival oleh Lombok Art Community (LAC).

 

Perupa muda asal Lombok, Farisian Narazi, memajang puluhan karya lukis berkonsep en plein air atau melukis langsung di alam terbuka dalam perhelatan pameran Revival. Melalui keahlian teknik naturalis dan pemanfaatan media digital, Farisian mampu beradaptasi dan berkembang pesat di tengah tantangan zaman.

SANCHIA VANEKA, Mataram

Di antara deretan karya seni rupa yang menghiasi ruang pameran Revival milik Lombok Art Community (LAC), puluhan kanvas kecil bercat akrilik menyita perhatian pengunjung. Karya-karya tersebut menampilkan lanskap alam yang segar dan hidup. Sang kreator di balik kanvas-kanvas itu adalah Farisian Narazi, seorang seniman sekaligus content creator muda yang konsisten menekuni teknik melukis en plein air. 

Baca Juga: Mengenal Adzkia Samha Saudia, Pelukis Cilik Lotim yang Borong 20 Gelar Juara di Usia TK

En plein air merupakan teknik melukis on the spot atau langsung di lokasi terbuka. Pria yang akrab disapa Faris ini mengungkapkan, sebagian besar karya yang dibawanya dalam pameran kali ini lahir dari proses pengerjaan langsung di tempat.

"Sebagian besar ini lukisan on the spot, melukis langsung di lokasi dan jadi di tempat,” kata Faris. 

Melukis langsung di alam terbuka diakui Faris memiliki tantangan tersendiri. Karena menggunakan cat akrilik yang cepat kering, ia harus pandai memainkan intensitas air di tengah hempasan angin dan sengatan terik matahari. Perubahan sudut pencahayaan matahari yang cepat juga memaksanya untuk bekerja cekatan.

"Pencahayaan matahari selalu berubah-ubah dan bayangan pohon ikut berpindah. Dalam waktu satu hingga tiga jam, karya harus sudah selesai dengan maksimal," terangnya.

Baca Juga: Pelukis Mataram Lintas Generasi Pamer Karya di Taman Budaya NTB

Meski rumit, Faris menemukan kenikmatan tersendiri dari proses spontan tersebut. Kepekaannya dalam meracik warna-warna primer menjadi warna alam diuji secara intensif. Selain itu, hobinya yang gemar bepergian atau traveling menjadikan alam Lombok sebagai sumber inspirasi yang tak pernah habis.

Tak hanya sekadar melukis di lapangan, Faris juga mematahkan stigma lama yang menyebutkan, profesi pelukis sulit memberikan jaminan hidup. Berbekal pemahaman digital marketing dan content creation, ia mendokumentasikan setiap proses melukisnya ke media sosial.

Langkah ini rupanya membuka ruang baru. Selain menjual karya fisik, Faris berhasil membuka kelas lukis online yang kini telah diikuti oleh ratusan siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

"Setiap keahlian sebenarnya sudah ada pasarnya. Tinggal bagaimana kita beradaptasi dengan perkembangan zaman, membuka mata, dan memanfaatkan media digital untuk menjangkau publik yang lebih luas," pungkas alumni Pendidikan Seni Rupa tersebut. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
art gallery lombok art community pameran seni pelukis