Mengurai Beban Emosi dan Mitos Kesehatan Mental Lewat Journaling

Chia • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 19:58 WIB
Journalling Session
Journalling Session

 Berawal dari ketertarikan pada stiker estetik dan guntingan kertas warna-warni, belasan anak muda di Mataram menemukan ruang aman untuk mengurai benang kusut dalam kepala mereka. Sesi journaling yang dipadukan dengan wawasan psikologis terbukti efektif meredakan kecemasan serta memulihkan kesehatan mental peserta.

SANCHIA VANEKA, Mataram 

Suasana di salah satu sudut Decocoffee Mataram sore itu tampak hangat dan riuh oleh deret stiker visual, guntingan kertas motif, hingga selotip dekoratif yang terhampar di atas meja kayu panjang. Belasan lembar kertas kosong yang mulanya dingin perlahan diisi oleh jemari-jemari muda yang tekun merekatkan ornamen estetik sembari menuliskan kata. Berbarengan dengan keasyikan menempel gambar-gambar lucu, sejatinya ada proses katarsis yang tengah berlangsung hangat.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Horor Indonesia di Bulan Juni 2026, Tawarkan Teror Psikologis, Karma Masa Lalu, hingga Komedi Mistik

Inilah gambaran suasana workshop Journaling for Overthinking yang digagas oleh praktisi kesehatan mental, Fitriani Hidayah, M.Psi., Psikolog. Berbeda dari sekadar aktivitas kerajinan tangan atau seni menggunting kertas biasa, acara ini memadukan kebebasan berekspresi secara visual dengan landasan edukasi psikologis yang mendalam.

“Sebenarnya kalau untuk journaling itu semua orang bisa buat, bahkan bukan psikolog pun bisa mengadakan event-nya,” kata Fitriani seusai acara. 

Tetapi, ia menyadari, nilai tambah terjadi ketika aktivitas seni ini dikolaborasikan secara ilmiah dengan disiplin ilmu yang ia tekuni. 

“Kalau journaling dibingkai biasa kan lebih ke ekspresi diri. Tapi begitu dikolaborasikan dengan tema psikologi, peserta tidak hanya berekspresi, melainkan mendapat edukasi dan insight baru untuk mengurai masalah mereka," tambahnya.

Isu overthinking atau berpikir berlebihan serta kecemasan menjadi keluhan paling dominan yang dirasakan oleh mayoritas peserta dari rentang usia 18 hingga 40 tahun. Tekanan pekerjaan, keretakan relasi, hingga beban ekspektasi sosial sering kali menumpuk di kepala tanpa pernah mendapatkan ruang muara yang pas. Ketika tumpukan beban itu tak menemukan pendengar, buku harian dan lem perekat menjadi tempat pelampiasan yang terapeutik.

Menariknya, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental tidak selalu menjadi alasan utama seseorang mendaftar dalam acara ini. Menurut Fitriani, banyak generasi Z maupun milenial yang awalnya hanya tertarik oleh aspek visual yang instagramable dan seru untuk dibuat konten media sosial.

Baca Juga: Empat Santri Korban Kekerasan Seksual di Lombok Tengah Dapat Pendampingan Psikologis

"Bisa jadi mereka tertarik dulu sama kegiatannya yang kelihatan lucu dan seru, baru kemudian setelah ikut, mereka sadar dan aware tentang kesehatan mental," jelasnya.

Pendekatan ini terbukti ampuh meruntuhkan kekakuan dan stigma seram seputar konsultasi psikologi.

Sepanjang sesi berlangsung, peserta dibebaskan untuk menceritakan kisah pribadi mereka jika merasa siap. Bagi yang belum siap berbagi di depan publik, Fitriani memberikan ruang aman tersendiri tanpa ada paksaan. Kehadiran ruang terbuka yang jujur ini menciptakan perasaan lega bahwasanya mereka tidak bertarung sendirian dalam menghadapi gejolak emosi kehidupan.

“Aku selalu ngasih notice dari awal ke peserta. Kalau belum siap cerita di depan umum, tidak apa-apa, tidak usah dipaksa,” ucapnya. (bersambung) 

 

Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Liputan
KESEHATAN MENTAL psikologis journalist Mataram psikolog