Kemarau Panjang, Kasus ISPA di Mataram Melonjak 46 Persen

Chia • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 23:36 WIB
RSUD Moh Ruslan Kota Mataram
RSUD Moh Ruslan Kota Mataram
 
LombokPost  - Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram mencatat lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebesar 46 persen selama periode kemarau panjang. Peningkatan kasus ini dipicu oleh paparan suhu udara ekstrem, paparan debu, serta kondisi cuaca kering yang makin meluas akibat dampak fenomena El Nino. 

“Pengaruh El Nino ini membuat kasus ISPA naik cukup tinggi,” kata Kepala Bidang P2P Dikes Kota Mataram dr. Dewi Ayu Murniati. 

Baca Juga: Prediksi Kemarau Panjang, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis

Dewi memaparkan, lonjakan kasus ini terlihat dari pemantauan epidemiologi pada minggu ke-36 hingga ke-37 tahun 2026 dibandingkan periode yang sama di tahun 2025. 

“Ada peningkatan sekitar 46 persen untuk kasus ISPA dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” tegasnya.

Selain ISPA, penyakit diare juga mencatatkan kenaikan sebesar 37 persen pada periode tersebut akibat tingginya potensi kontaminasi makanan di tengah udara kering. Namun, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) justru terpantau mengalami penurunan. 

“Diare memang ada peningkatan 37 persen, sementara untuk DBD kasusnya justru turun," ujarnya.

Tingginya angka ISPA tidak lepas dari buruknya kualitas udara serta cepatnya perkembangan virus di iklim kering. Penularan melalui udara ini membuat penyakit sangat cepat menyebar di lingkungan keluarga maupun sekolah, bahkan berisiko komplikasi pneumonia. 

“Penyebaran virus di udara kering ini sangat cepat, kalau satu kena biasanya serumah ikut tertular,” jelasnya.

Kondisi cuaca terik juga memicu heat 

exhaustion atau kelelahan hebat akibat panas ekstrem. Keadaan tersebut sangat rentan dialami oleh pekerja luar ruangan, lansia dengan penyakit penyerta atau komorbid), serta kelompok balita. 

“Lansia, anak-anak, dan pekerja lapangan adalah kelompok yang paling rentan," terangnya.

Paparan panas terus-menerus tanpa asupan cairan yang memadai dapat memicu dehidrasi berat, penurunan kesadaran, hingga ancaman terburuk berupa heatstroke. 

“Kalau dehidrasinya makin berat dan suhunya ekstrem, risiko terburuknya bisa sampai heatstroke,” peringatnya.

Sebagai indikator awal dehidrasi, warga diminta cermat mengenali tanda fisik seperti bibir kering, lemas, hingga perubahan warna urine menjadi kuning pekat.

Untuk mencegah perburukan kondisi kesehatan, masyarakat diimbau rutin mengonsumsi air putih, membatasi minuman berkafein atau tinggi gula, serta mengurangi aktivitas fisik berat di bawah terik matahari. 

Baca Juga: Awas Heatstroke dan ISPA! Dikes Mataram Bagikan Panduan Bertahan di Tengah Suhu Ekstrem

“Jangan tunggu haus baru minum, usahakan minum air putih secara teratur tiap jam,” imbaunya.

Untuk mengantisipasi lonjakan pasien, Dikes memastikan seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas) telah bersiaga penuh dengan stok obat-obatan yang aman. Selain penanganan medis, tenaga kesehatan di setiap puskesmas juga diterjunkan ke masyarakat melalui posyandu dan layanan pemeriksaan gratis untuk memberikan edukasi pola hidup sehat. 

“Teman-teman puskesmas terus turun ke lapangan memberikan sosialisasi pencegahan ke warga,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Dikes Kota Mataram Emirald Isfihan, mengimbau warga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) saat memasuki puncak musim kemarau. Dikatakan berbagai penyakit yang berpotensi terjadi saat puncak kemarau berkaitan dengan lingkungan dan bersumber dari sanitasi seperti penyakit DBD dan ISPA dehidrasi daya tahan tubuh menurun hingga masalah kulit akibat debu dan keterbatasan air bersih.

 

“Warga harus mewaspadai berbagai ancaman penyakit yang rentan terjadi meningkat saat puncak musim kemarau," katanya. (chi)

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Liputan
ispa Dikes Mataram Mataram Cuaca Ekstrem kemarau panjang