Keberanian mendaftar secara mandiri membawa Ni Kadek Sarasehan Dewi meraih gelar Putri Anak Indonesia Pariwisata Nusa Tenggara Barat.
Melalui panggung ini, siswi SMA Negeri 4 Mataram tersebut membawa misi advokasi kebersihan demi mewujudkan pariwisata daerah yang berkelanjutan.
---------------
Di balik gemerlap panggung grand final dan silau lampu sorot ajang pemilihan Putri Anak Indonesia Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), ada keberanian yang tumbuh dari seorang remaja belia.
Ni Kadek Sarasehan Dewi atau yang akrab disapa Saras, membuktikan impian besar kerap berawal dari keberanian melangkah.
Remaja yang berpenampilan anggun ini mengaku tidak pernah membayangkan langkah sederhananya bisa berbuah hasil manis hingga membawanya berdiri di panggung daerah.
“Perkenalkan, nama saya Ni Kadek Saraswati Handewi, biasa dipanggil Saras,” ucapnya ramah.
Baca Juga: Ini Daftar Lengkap Pemenang Puteri Anak & Puteri Remaja NTB 2026
Gadis berparas manis ini merupakan siswi yang baru saja menginjakkan kaki di jenjang kelas X SMA Negeri 4 Mataram.
Berbeda dari sebagian peserta lain yang mendapat dorongan penuh atau rekomendasi langsung dari sekolah, Saras justru memilih jalan mandiri sejak awal.
Tanpa ragu, ia mendaftarkan dirinya secara daring atau online, melengkapi berkas administrasi seperti foto dan data umur, hingga akhirnya dinyatakan lolos ke tahap seleksi berikutnya.
“Awalnya pendaftaran online, lalu audisi offline, karantina, sampai grand final. Saya daftar sendiri secara pribadi," tuturnya.
Perjalanan Saras mengarungi kompetisi ini tentu tidak dilalui dengan mudah begitu saja. Rangkaian seleksi berjalan penuh tantangan. Mulai dari penyaringan berkas, penilaian penampilan, uji wawasan saat karantina, hingga puncaknya di panggung utama.
Di antara seluruh tahapan yang ada, sesi tanya jawab (Q&A) pada panggung grand final menjadi ujian terberat yang paling menguji nyali serta ketenangan mentalnya di hadapan para juri.
“Sesi paling berat itu pas Q&A di grand final, karena pertanyaannya diacak langsung dan kita tidak tahu sebelumnya,” jelasnya.
Meski rasa gugup sempat melintas, Saras berhasil mengatasi tekanan tersebut dengan sangat baik. Jawaban-jawaban lugas, tenang, dan berbobot yang dilontarkannya sukses memikat perhatian dewan juri hingga menghantarkannya meraih mahkota Putri Anak Indonesia Pariwisata NTB. Bagi Saras, mahkota tersebut bukan sekadar perhiasan panggung, melainkan sebuah amanah besar untuk berkontribusi nyata bagi tanah kelahirannya.
Baca Juga: Bukan Cuma Cantik! Ini Kriteria Ketat Audisi Puteri Anak dan Remaja Indonesia NTB 2026
“Tapi astungkara, pas Q&A kemarin saya tetap bisa jawab pertanyaannya," tambahnya.
Sebagai seorang remaja yang gemar berwisata dan menjelajahi keindahan alam atau traveling, Saras menyadari potensi pariwisata NTB sangat luar biasa.
Dari sekian banyak destinasi indah di NTB, Saras memfavoritkan Gili Trawangan karena pesona alam bawah laut dan pantainya yang memikat. Namun, di balik keindahan destinasi populer tersebut, ia kerap mengamati permasalahan klasik yang masih menjadi tantangan bersama, yakni kebersihan lingkungan dan penanganan sampah.
“Saya memang suka traveling. Kalau tempat favorit di NTB ada Gili Trawangan, tapi kebersihannya masih jadi PR," akunya jujur.
Pengalaman di lapangan itulah yang mendorong Saras merumuskan program kerja serta advokasi utamanya selama mengemban tugas sebagai duta wisata.
Ia bertekad untuk memfokuskan kegiatannya pada kampanye kebersihan di kawasan destinasi pariwisata.
Menurutnya, keindahan alam yang indah tidak akan banyak berarti jika tidak dibarengi dengan kebersihan yang terjaga, karena kenyamanan wisatawan adalah kunci utama pariwisata yang berkelanjutan.
“Advokasi saya lebih ke kebersihan lingkungan di daerah pariwisata untuk pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.
Melalui advokasi ini, Saras berharap dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi muda lainnya di NTB agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Ia meyakini, perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran dan aksi nyata dari hal-hal kecil.
“Soalnya pariwisata itu kan harus bersih dulu, baru nantinya bisa mengundang banyak pengunjung,” terangnya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan