LombokPost - Tren kasus kasus virus Influenza A di tingkat nasional maupun global dilaporkan tengah mengalami peningkatan.
Meski demikian, lonjakan tersebut dipastikan masih berada dalam tingkat sedang dan mengikuti pola musiman tahunan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram pun mengimbau warga Kota Seribu Masjid untuk tidak panik namun tetap waspada menjaga kesehatan tubuh.
“Tren kenaikan ini terjadi peningkatan yang cenderung di suatu wilayah seperti tempat kita, namun statusnya berbeda dengan pandemi Covid-19,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan.
Baca Juga: Dikes Lotim Tekankan Langkah Preventif untuk Cegah Virus Influenza
Penyebab utama dari merebaknya virus Influenza A saat ini di antaranya adalah faktor cuaca ekstrem yang kerap berubah-ubah di wilayah lokal.
Kondisi cuaca tersebut disinyalir mempermudah proses penyebaran virus karena secara tidak langsung menurunkan daya tahan atau imunitas tubuh masyarakat.
Saat daya tahan tubuh sedang drop, penyebaran virus antarmanusia dapat berlangsung sangat cepat.
“Faktor cuaca ini bukan berarti menggantikan virus, tapi mempermudah penyebarannya karena mempengaruhi daya tahan tubuh kita,” terangnya.
Mengenai gejala klinis, Influenza A memiliki kemiripan dengan gejala flu atau infeksi virus saluran pernapasan pada umumnya. Penderita biasanya akan mengeluhkan rasa sakit atau gatal di bagian tenggorokan hingga disertai demam. Perbedaan paling signifikan terletak pada durasi atau masa berlangsurnya sakit yang dirasakan oleh penderita.
“Gejalanya hampir sama seperti virus pada umumnya, cuma Influenza A ini biasanya berlangsung lebih lama,” jelasnya.
Terkait langkah mitigasi dan pencegahan, Dikes menekankan pentingnya pola hidup sehat bagi masyarakat. Langkah sederhana yang paling efektif adalah menjaga stamina, mengonsumsi makanan bergizi seimbang seperti buah dan sayur, memperbanyak minum air putih di tengah cuaca panas, serta istirahat yang cukup.
“Intinya ada di daya tahan tubuh saja, jaga istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi seimbang,” imbaunya.
Secara administratif, Dikes tidak melakukan pendataan angka kasus Influenza A secara terpisah atau khusus.
Hal ini disebabkan kasus tersebut masuk ke dalam bagian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan bukan merupakan program pendataan khusus. Di samping itu, fasilitas kesehatan juga tidak melayani pemeriksaan diagnosis khusus untuk memisahkan jenis varian A dengan varian flu lainnya.
“Kita tidak melakukan pendataan secara khusus karena Influenza A ini bukan program yang harus didata khusus, tapi bagian dari ISPA,” bebernya.
Meskipun tingkat penularannya relatif masif dan cepat, Dinas Kesehatan memastikan bahwa kasus Influenza A tidak tergolong sebagai penyakit yang fatal atau mematikan. Masa perlangsungan sakit pada pasien yang terinfeksi umumnya dapat berjalan hingga kurun waktu dua pekan atau 14 hari sebelum akhirnya pulih kembali.
“Insya Allah tidak mematikan, hanya saja penularannya lebih cepat dan masa perlangsungan sakitnya bisa sampai 14 hari,” pungkasnya.
Mengenai kasus ISPA secara menyeluruh, Kepala Bidang P2P Dikes Kota Mataram dr. Dewi Ayu Murniati mengatakan, terjadi lonjakan kasus ini terlihat dari pemantauan epidemiologi pada minggu ke-36 hingga ke-37 tahun 2026 dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.
“Ada peningkatan sekitar 46 persen untuk kasus ISPA dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” terangnya. (chi)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan