Kanvas Boleh Terbatas, Nyala Seni Tak Boleh Padam

Chia • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 20:16 WIB
Pelukis Made Tresne berdiri bersama lukisan berjudul Between Arrival and Goodbye di atas media tripleks.
Pelukis Made Tresne berdiri bersama lukisan berjudul Between Arrival and Goodbye di atas media tripleks.

 

Berawal dari keberanian melompati batas media kanvas, Made Tresne menghidupkan kembali memori-memori hangat dalam goresan cat minyak berteknik ala prima. Melalui karya-karyanya, pelukis otodidak ini membuktikan, keterbatasan bahan tak boleh memadamkan nyala kreativitas para seniman muda.

SANCHIA VANEKA, Mataram

Di sebuah acara seni, seorang pria berbusana adat Bali lengkap dengan udeng dan sarung bernuansa hitam-putih berdiri anggun di samping papan pameran sederhananya. Di hadapannya, berjejer lukisan-lukisan berukuran sedang dan kecil yang tidak biasa. Bukan kanvas mahal yang menjadi alas goresan catnya, melainkan kepingan-kepingan tripleks yang dipoles sedemikian rupa hingga memancarkan kehangatan visual yang puitis.

“Awalnya karena ada ekspresi yang tak bisa saya bayangkan secara fisik, jadi saya coba buat dulu dengan pensil dan sketsa,” kata Made Tresne. 

Baca Juga: Karya Siswa SMAN 8 Mataram Didorong Masuk Hotel, Regenerasi Pelukis NTB Terjaga

Perjalanan seni Made sejatinya berawal dari keisengan menggambar sketsa sekitar tahun 2018. Namun, konsistensi baru benar-benar ia temukan pada akhir tahun 2024. Rasa jenuh terhadap hitam-putih pensil mendorongnya memberanikan diri menjelajahi warna-warni akrilik, hingga akhirnya berlabuh pada keanggunan cat minyak.

“Lama-lama agak jenuh juga dengan hitam-putih, lalu mencoba memberanikan diri dengan akrilik, dan sekarang baru main cat minyak,” jelasnya.

Sebagai pelukis otodidak, Made percaya, seni melukis bukanlah keahlian eksklusif milik mereka yang mengenyam pendidikan formal seni rupa semata. Ada teknik dan pemahaman dasar yang jika dipelajari dengan tekun, akan membuka pintu kreativitas siapa saja. Kesabaran dan proses belajar mandiri menjadi kunci utama yang membentuk karakter kekaryaannya saat ini.

“Saya percaya semua orang sebenarnya bisa melukis, hanya saja perlu kesabaran,” ucapnya.

Salah satu hal paling menonjol dari karya Made adalah sapuan kuasnya yang sengaja dibuat agak kabur atau blurry. Pendekatan teknik ala prima, teknik melukis cepat yang diselesaikan dalam sekali duduk selama 1 hingga 3 jam, memberikan kesan intuitif pada lukisannya. Objek otomotif klasik hingga momen perjumpaan manusia diubahnya menjadi ruang nostalgia yang tenang dan menyentuh.

Baca Juga: Pelukis Mataram Lintas Generasi Pamer Karya di Taman Budaya NTB

“Saya ingin lukisan ini seperti memori dalam pikiran kita, agak blur, membawa nuansa nostalgia,” katanya.

Efek samar tersebut bukan tanpa alasan. Made ingin memberikan ruang bagi para penikmat lukisannya atau viewers untuk berinteraksi secara emosional. Penonton diajak untuk diam sejenak, merenung, dan menyelesaikan sendiri bentuk lukisan tersebut di dalam imajinasi mereka masing-masing.

“Agar mereka bisa diam sejenak, melihat, dan menyelesaikan sendiri bentuk-bentuknya di dalam pikiran,” jelasnya.

Salah satu karya masterpiece yang paling berkesan baginya berjudul ‘Between Arrival and Goodbye’. Lukisan tersebut menggambarkan sudut stasiun bus tempat bertemunya dua takdir manusia. Kedatangan dan perpisahan. Bagi Made, pementasan visual itu adalah cerminan dari kehidupan manusia yang serba tidak abadi.

“Di tempat yang sama, ada orang baru datang memulai kenangan baru, dan ada orang yang berpisah tanpa tahu apakah akan ketemu lagi,” tuturnya.

Di samping mengekspresikan rasa, ada misi sosial yang dibawa Made melalui media tripleksnya. Ia ingin merobohkan stigma, kalau berkarya seni harus membutuhkan modal besar dan kanvas mahal. Ia menyasar generasi muda dan seniman lokal agar tidak membiarkan ide kreativitas mereka padam hanya karena terkendala masalah finansial.

“Jangan sampai kreativitas mereka mati hanya karena berpikir harus beli kanvas mahal,” katanya.

Hingga saat ini, Made telah melahirkan sekitar 100 karya seni. Sebanyak 15 di antaranya telah berpindah tangan ke para kolektor. Baik melalui pembelian langsung maupun pesanan khusus commission. Karya-karya berbahan tripleksnya ia tawarkan dengan kisaran harga Rp 1,2 juta hingga Rp 2,4 juta, angka yang sangat terbuka untuk dinegosiasikan.

“Saya tidak ingin menyembunyikan keindahan itu sendiri, orang lain juga berhak untuk memilikinya,” jelasnya. 

Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Liputan
Pelukis NTB seniman pelukis