KERIS-KERIS itu tidak datang dalam satu waktu. Satu demi satu. Dari Lombok, Bali, Sumbawa, dan Bima. Hingga dari Jawa dan Sumatera. Kini, sekitar 600 keris tersimpan dalam koleksinya.
---
Bagi Alwi, setiap keris memiliki cerita. Bukan hanya tentang bentuknya. Atau sekadar tentang usia.
Tetapi juga tentang zaman yang pernah dilaluinya. “Saya main keris itu dari SMA,” kata Alwi pada Lombok Post, Senin (28/9).
Perjalanan itu kemudian membawanya berkenalan dengan banyak tokoh perkerisan di Indonesia. Salah satu yang pertama kali mengenalkannya lebih jauh pada dunia keris adalah seorang juru rawat keris Lombok dan Bali yang tinggal di Taliwang Utara.
Dari sana, perhatian Alwi terhadap keris semakin dalam. Tahun demi tahun ia mulai lebih sering bepergian ke Jakarta.
Sekitar 1994, ia bertemu dengan sejumlah tokoh yang kemudian ikut mewarnai perjalanan panjang dunia perkerisan nasional. Pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar soal mengoleksi.
Ada pembicaraan yang lebih besar. Tentang bagaimana keris Indonesia bisa dihimpun dan diperjuangkan sebagai bagian dari warisan budaya.
Baca Juga: RSUD H. Moh. Ruslan Siapkan Layanan One Stop Service Medical Check-Up Calon Jemaah Haji
“Dulu, sekitar tahun 2000 atau di bawah tahun 2000, saya sering ke Jakarta,” ujarnya.
Perjalanan itu kemudian berlanjut. Para pemerhati keris dari berbagai daerah berkumpul dan membentuk Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia atau SNKI.
Alwi menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Keris tidak lagi hanya dibicarakan sebagai benda pusaka.
Ada upaya untuk melihatnya sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan pengetahuan. “Setelah terbentuknya SNKI, kurang lebih tahun 2002 atau 2004, diusulkan ke UNESCO, keris ini menjadi salah satu warisan budaya,” tutur Alwi.
Di antara nama-nama yang terlibat, Alwi menyebut sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan tersebut. “Ada Wiwoho Basuki. Ada Meutia Hatta,” ujarnya.
Ada pula tokoh-tokoh lain yang kini sebagian besar telah berpulang. Dari generasi itu, Alwi menjadi salah satu yang masih meneruskan perjalanan.
“Usia saya kini 57 tahun,” ucapnya.
Namun jika berbicara soal keris, ia merasa justru masih relatif muda dibanding sejumlah tokoh yang lebih dahulu menggeluti dunia tersebut. Yang tersisa bukan hanya kenangan.
Tetapi juga koleksi. Sekitar 600 keris kini menjadi bagian dari perjalanan Alwi.
Sebagian besar berasal dari Lombok. Lainnya datang dari Bali, Sumbawa, Bima, Jawa hingga Sumatera.
Baca Juga: Srikandi Panahan Nurisa Dian Ashrifah Sumbang Medali Emas Kelima Indonesia di Asian Games 2026
“Sekarang kurang lebih 600,” katanya.
Jumlah itu tentu bukan sekadar angka. Sebab Alwi tidak sembarang mengumpulkan keris.
Ia lebih banyak mencari keris-keris tua. Keris yang memiliki jejak sejarah.
Keris yang berasal dari kerajaan atau lingkungan kebudayaan masa lalu. Menurutnya, usia menjadi salah satu bagian penting dalam membaca sebuah keris.
Namun umur bukan satu-satunya ukuran. Ada bentuk, dapuran, dan sejarah.
“Kalau keris itu kita bisa lihat dari dapurannya. Dapur itu adalah zaman, atau bentuk. Bentuk kerisnya kita sudah bisa tahu ini dari zaman apa,” jelasnya.
Karena itu, memahami keris bukan pekerjaan sehari dua hari. Diperlukan pengetahuan yang detail.
Mata harus terlatih. Pengetahuan tentang bentuk harus kuat. Begitu pula pemahaman mengenai sejarahnya.
“Menurut saya, semua keris itu istimewa,” ujarnya.
Nilai sebuah keris kemudian bisa menjadi sangat tinggi. Terlebih jika keris tersebut memiliki usia tua, bentuk yang bagus, serta sejarah yang kuat.
Baca Juga: Dewan Fayadi: Pengambilalihan Eks Gedung BI Strategis Perkuat Kawasan Kota Tua Ampenan
Bahkan tanpa diketahui siapa pembuatnya. “Itu akan sangat mahal,” katanya.
Alwi kemudian menyimpan cerita tentang salah satu koleksinya dari Lombok Utara. Keris tersebut pernah mendapat penawaran dengan nilai yang sangat tinggi.
Namun ia memilih tidak melepasnya.
“Penawaran sudah, saya tidak kasih,” ungkapnya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post