Risau Anak Muda Asyik Medsos, Alwi Moerad Titip Pesan Pelestarian Sejarah Keris Nusantara

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 18:05 WIB
Gagang salah satu keris yang dimiliki oleh Maestro Keris Lombok Alwi Moerad.
Gagang salah satu keris yang dimiliki oleh Maestro Keris Lombok Alwi Moerad.

 

Ada masa ketika harga sebuah keris hanya sekitar Rp 20 ribu. Bagi Alwi Moerad, harga itu sudah terasa mahal. Namun kecintaannya pada benda antik membuatnya tetap membeli. Kini, puluhan tahun berlalu. Keris yang dulu dibelinya dengan harga puluhan ribu rupiah sebagian telah bernilai jutaan.

 

---

 

ALWI mengaku, sejak awal dirinya tidak semata-mata berpikir tentang keuntungan. Ada kegemaran yang lebih dulu tumbuh.

Ia memang menyukai benda-benda antik. Dari kegemaran itu, perhatian terhadap keris semakin kuat.

“Saya yang pertama senang dulu. Saya memang hobi barang antik,” kata Alwi, Senin (2/10).

Ada alasan lain yang kemudian membuat keyakinannya terhadap keris semakin besar. Ia melihat banyak keris dari Indonesia justru dibawa ke luar negeri.

Amerika. Belanda. Prancis. Dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Baca Juga: Tak Silau Ornamen Emas, Maestro Keris Lombok Ungkap Rahasia Pusaka Senilai Miliaran Rupiah

Pemandangan itu membuatnya berpikir bahwa keris memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar benda pusaka di dalam negeri.

“Saya lihat keris-keris ini banyak dibawa ke luar negeri, ke Amerika, Belanda, Eropa, sampai Prancis. Saya pikir, wah, ini bagus,” tuturnya.

Keyakinan tersebut bahkan membuatnya berani mengambil keputusan besar ketika masih bekerja. Sekitar 1996, Alwi rela menjual mobil yang dimilikinya.

Bukan untuk membeli kendaraan baru. Tetapi membeli keris.

“Dulu saya kerja di Rental Mobil, tahun 1996. Saya jual mobil untuk beli keris,” kenangnya.

Keputusan itu mungkin terdengar tidak biasa. Namun Alwi melihat ada sesuatu yang akan semakin langka.

Keris tua tidak bisa diproduksi kembali. Ketika sebuah keris tua berpindah ke luar negeri, jumlah yang tersisa di Indonesia semakin sedikit.

Dari situlah keyakinan investasinya tumbuh. Menurutnya, kelangkaan pada akhirnya akan membuat nilai sebuah benda semakin tinggi.

Dan apa yang dulu ia bayangkan kini mulai terlihat. Keris yang dahulu bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp 20 ribu, kini ada yang mencapai puluhan hingga ratusan juta.

“Sekarang keris tua sudah sangat sulit. Harganya juga sudah sangat mahal,” ujarnya.

Baca Juga: Pemkot Targetkan 1.144 RTLH Tuntas Tahun Ini, Disperkim Mataram Percepat Perbaikan Rumah Warga

Tetapi setelah memiliki ratusan keris, muncul pertanyaan lain. Untuk apa semuanya dikumpulkan?

Apakah hanya akan disimpan? Atau kelak diwariskan kepada anak dan cucu?

Alwi melihat ada persoalan yang lebih besar. Ia ingin koleksi tersebut tidak berakhir tercerai-berai.

Karena itu, seperti banyak kolektor keris lainnya, ia memiliki gagasan tentang museum. Sebuah tempat yang dapat menyatukan koleksi.

Sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan keris kepada generasi berikutnya. “Kalau semua orang yang suka keris, saya yakin banyak yang punya keinginan mempunyai museum. Supaya peninggalannya tidak berceceran,” katanya.

Namun mewujudkan gagasan itu bukan perkara mudah. Tantangannya bukan hanya soal tempat.

Bukan pula sekadar biaya. Ada persoalan regenerasi. Alwi melihat generasi muda kini tumbuh dalam dunia yang berbeda.

Telepon pintar dan media sosial telah menjadi bagian besar dari kehidupan mereka. Sementara keris membutuhkan kesabaran untuk dipelajari.

Harus dilihat, dibaca, dirawat, dan dipahami sejarahnya. “Sekarang masalahnya, anak-anak kita sudah demen media sosial. Mereka sudah sangat tergantung dengan media sosial,” ungkapnya.

Kekhawatiran itu bukan berarti Alwi menolak perkembangan zaman. Justru ia ingin mencari cara agar keris bisa diperkenalkan melalui bahasa generasi baru.

Baca Juga: Wujudkan Pelayanan Inklusif, Dukcapil Mataram Sisir Perekaman KTP-el Disabilitas dan Lansia

Sebab jika tidak ada yang meneruskan pengetahuan tersebut, koleksi sebanyak apa pun pada akhirnya hanya akan menjadi benda mati. Di sinilah gagasan museum menjadi penting.

Bukan hanya sebagai tempat menyimpan keris. Tetapi sebagai ruang belajar.

Tempat generasi muda dapat melihat langsung bentuk keris dari berbagai zaman dan daerah. “Mengenal dapuran keris,” lirihnya. 

Sekaligus mengetahui bahwa benda yang selama ini mungkin dianggap sekadar pusaka memiliki perjalanan kebudayaan yang panjang.

Bagi Alwi, perjalanan mengoleksi keris sejak remaja akhirnya membawa dirinya pada sebuah kesadaran. Bahwa menjaga keris bukan hanya tentang memiliki.

Tetapi juga memastikan pengetahuan tentangnya tidak ikut hilang. Sebab sebuah keris bisa berpindah tangan.

Bisa naik nilainya. Bahkan bisa dibawa jauh ke berbagai negara.

Namun sejarah yang melekat pada bilahnya tetap membutuhkan orang yang mau menceritakannya. “Yang saya pikirkan sekarang, peninggalan ini jangan sampai berceceran. Harus ada yang menjaga dan meneruskannya,” pungkas Alwi. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Museum Keris Lombok Alwi Moerad Pelestarian Benda Pusaka NTB Regenerasi Budaya Keris Nusantara