Sumur Aman, BPBD Mataram Tetap Waspada Kekeringan

Chia • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:37 WIB

 

ilustrasi
ilustrasi

 

LombokPost - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram memastikan kondisi Kota Mataram hingga saat ini masih tergolong aman dari krisis air bersih maupun kekeringan ekstrem.

Meski demikian, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak kemarau berkepanjangan, BPBD telah menyiagakan serta menyalurkan enam unit tandon air berkapasitas besar ke seluruh kantor kecamatan di Kota Mataram.

“Alhamdulillah, berdasarkan koordinasi kami bersama para kepala wilayah, enam camat, dan 50 lurah se-Kota Mataram, hingga saat ini BPBD belum menerima aduan terkait kekeringan ekstrem yang dialami warga,”  kata Kepala BPBD Kota Mataram Budi Wartono. 

Baca Juga: Kota Mataram Siaga Kekeringan, BPBD Andalkan Bantuan BNPB

Budi mengatakan, berdasarkan hasil koordinasi dan pemetaan BMKG, bulan Oktober 2026 ini merupakan fase awal pembentukan bibit awan hujan. Hujan diperkirakan baru mulai mengguyur wilayah Mataram pada bulan November mendatang dengan intensitas normal. Sedangkan puncak musim hujan diproyeksikan terjadi pada Januari 2027.

Budi menjelaskan, pemantauan intensif di lapangan menunjukkan sumber air bersih masyarakat masih berada dalam kondisi stabil.

Tidak ditemukan sumur warga yang mengering, sementara aktivitas di sektor pertanian juga tetap berjalan normal. Para petani di Mataram masih bisa melakukan proses tanam dan panen tanpa ancaman gagal panen atau puso akibat kekeringan.

Meskipun demikian, Budi tidak menampik adanya penurunan debit air di saluran-saluran irigasi.

Namun, ia menegaskan pasokan air masih mencukupi dan saluran irigasi tetap berfungsi dengan baik.

Penurunan debit tersebut terjadi lantaran volume air dari wilayah hulu memang mengalami penyusutan selama masa kemarau ini.

Untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko bencana kekeringan hingga datangnya musim penghujan, BPBD terus menggencarkan sejumlah langkah strategis.

Pertama, mengguncang sosialisasi serta menggemakan imbauan Wali Kota Mataram terkait kewaspadaan menghadapi dampak kemarau berkepanjangan.

Kedua, tim BPBD secara rutin menerjunkan personel untuk melakukan patroli pemantauan di kawasan lahan terbuka yang rawan terbakar. 

“Petugas di lapangan juga aktif mengedukasi petani supaya tidak melakukan pembakaran jerami pascapanen. Bisa mencegah terjadinya kebakaran lahan yang meluas,” jelasnya. 

Langkah konkrit ketiga adalah penyiapan insfrastruktur darurat. BPBD telah mendistribusikan enam unit tandon air berkapasitas besar ke enam kantor kecamatan se-Kota Mataram. 

“Apabila sewaktu-waktu warga membutuhkan pasokan air bersih mendesak, kolaborasi antara BPBD dan pihak kecamatan akan langsung diaktifkan untuk penyaluran air,” terangnya. 

Senada dengan itu, Kepala Dinsos Kota Mataram Muzakir Walad mengatakan, memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi di tengah potensi kekeringan.

Meski belum ditemukan wilayah yang mengalami krisis air secara krusial, satu unit mobil tangki berkapasitas 5.000 liter telah disiagakan untuk merespons kebutuhan warga.

“Hasil pemantauan sejauh ini belum ada yang krusial. Tapi kita sembari menunggu instruksi atau laporan, terkait penyediaan air bersih dan sebagainya tentu langsung kita tindak lanjuti,” katanya. 

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
Bpbd mataram Kekeringan Mataram