LombokPost, gagasan-gagasan itu mendapat panggung. “Tidak hanya berkumpul, tetapi lebih dari itu, kita sedang memberi penghargaan kepada gagasan,” kata Wakil Wali Kota Mataram TGH. Mujiburrahman, Jum'at (9/10).
Hal ini menjadi penegas pembangunan kota membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan pemerintah. Ada ruang yang harus dibuka bagi anak muda untuk berpikir, meneliti, dan menawarkan perubahan.
Ruang itu hadir melalui Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat SMA/MA/SMK se-Kota Mataram, Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG), dan Posyantek Tahun 2026. Pengumuman pemenang telah dilakukan.
Namun, bagi pemerintah kota, hasil akhir bukan satu-satunya hal yang layak dirayakan. Ada proses panjang di balik setiap karya. Peserta harus mencari data, mengenali persoalan, menyusun analisis, hingga merumuskan solusi.
Mereka belajar sebuah gagasan tidak cukup hanya terdengar menarik. Namun memiliki dasar dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Pengalaman mengikuti proses ini jauh lebih berharga daripada sekadar mendapatkan piala,” tegasnya.
Baca Juga: Michael Carrick Bela Lisandro Martinez Usai Kritik Tajam Perekrutan Manchester United
Di situlah nilai sebuah kompetisi menjadi lebih luas. Piala memang menandai siapa yang berhasil meraih kemenangan.
Namun pengalaman meneliti dan menyusun pemikiran menjadi bekal. Bisa dibawa jauh setelah perlombaan selesai.
Terlebih, persoalan kota tidak selalu membutuhkan jawaban rumit. Teknologi yang bermanfaat bisa saja berangkat dari kebutuhan sehari-hari. Sesuatu yang dekat dengan masyarakat, mudah digunakan, dan mampu membantu menyelesaikan masalah.
Karena itu, ukuran keberhasilan inovasi bukan semata-mata kecanggihan alat atau keunikan konsepnya. Yang lebih penting adalah manfaatnya.
“Teknologi yang baik tidak selalu harus sesuatu yang rumit ataupun spektakuler. Teknologi harus dapat digunakan, dijangkau, dan yang paling penting, menjawab kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: 21 Jerigen Berisi BBM Tak Bertuan Ditemukan di Gunungsari, Polisi Selidiki Dugaan Penimbunan
Dari LKTI, para pelajar didorong membangun tradisi berpikir kritis. Dari TTG dan Posyantek, gagasan didorong agar tidak berhenti pada konsep, tetapi memiliki peluang diterapkan.
Ketiganya bertemu pada satu tujuan: menjembatani pemikiran dengan kebutuhan nyata
Sebab, karya yang berhenti di atas kertas hanya akan menyisakan catatan tentang sesuatu yang pernah dicoba. Sebaliknya, gagasan yang dikembangkan dan diterapkan bisa membuka jalan bagi perubahan.
Mujib berharap, hasil penelitian dan inovasi yang lahir dari kegiatan tersebut tidak berakhir sebagai dokumen atau prototipe yang kemudian dilupakan. Pemerintah perlu memastikan ada ruang menindaklanjutinya.
“Kita ingin riset, inovasi dan kebijakan ini bisa saling terhubung. Jangan sampai karya yang sudah dibuat berhenti hanya sebagai dokumen, tetapi bisa dikembangkan untuk pembangunan daerah dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Baca Juga: Diikuti 427 Peserta, APKESMI Soroti Besaran Kapitasi Puskesmas di Tengah Kebijakan Efisiensi
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin