LombokPost – Persaingan angkutan semakin ketat. Bemo yang selama puluhan tahun menjadi salah satu moda transportasi masyarakat kini tidak hanya harus bersaing dengan kendaraan pribadi dan taksi, tetapi juga dengan kemunculan mobil odong-odong yang disebut ikut mengangkut pelajar.
Kondisi tersebut dirasakan langsung para pengemudi bemo. Jumlah penumpang, terutama dari kalangan pelajar, disebut terus berkurang dibandingkan masa kejayaan angkutan kota pada era 1990-an.
“Kalau untuk zaman sekarang memang kita kesulitan. Terutama banyak saingan, taksi dan anak-anak pelajar sudah pakai sepeda motor,” ujar Royan, salah seorang pengemudi Bemo Kuning, Kamis (8/10).
Namun, persaingan kini tidak berhenti pada kendaraan pribadi. Keberadaan mobil odong-odong yang turut mengangkut anak-anak sekolah juga menjadi perhatian.
Kendaraan tersebut dinilai mengambil ceruk penumpang. Selama ini menjadi salah satu sumber pemasukan angkutan kota, terutama pelajar.
Royan mengaku persoalan keberadaan odong-odong tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada Dinas Perhubungan. Namun, dirinya mengaku belum mengetahui secara pasti tindak lanjut pemerintah terkait kendaraan tersebut.
“Kita dari Dinas Perhubungan dapat (informasi) katanya ilegal, tapi tidak ada responsnya,” keluhnya.
Bagi pengemudi bemo, persoalan tersebut bukan semata soal persaingan mencari penumpang. Mereka juga berharap ada kejelasan mengenai status dan aturan kendaraan yang digunakan mengangkut pelajar tersebut.
Baca Juga: Pasukan Kebersihan Merawat Kota saat Gemerlap Parade MotoGP
Sebab, di tengah semakin banyaknya pilihan transportasi, keberadaan bemo justru semakin terdesak. Padahal, angkutan kota selama ini menjadi salah satu moda transportasi yang melayani masyarakat dengan tarif yang relatif terjangkau.
Royan mengatakan kondisi tersebut membuat jumlah pelajar yang menggunakan bemo semakin sedikit. Meski demikian, dia mengaku tetap menjalankan aktivitas seperti biasa karena masih ada penumpang yang mengandalkan bemo.
“Rezeki pasti ada saja, cuma kita kalah saing sekarang,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah Kota Mataram sebenarnya memiliki program angkutan gratis bagi pelajar. Program tersebut melibatkan angkutan kota untuk mengangkut siswa, khususnya pelajar SMP.
Royan menyebut program tersebut dijalankan melalui Dinas Perhubungan. Pengemudi yang terlibat dalam layanan tersebut mendapatkan bayaran dari pemerintah.
“Dari Dinas Perhubungan untuk angkut anak SMP. Gratis, dia digaji sama pemerintah,” jelasnya.
Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah mempertahankan keberadaan angkutan kota. Sekaligus memberikan alternatif transportasi aman dan gratis bagi pelajar.
Terpisah Ketua Organda NTB Junaidi Kasum menyebut keberadaan odong-odong di Kota Mataram memang terus berkembang, bahkan diperkirakan telah mencapai sekitar 600 unit. Kendaraan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk mengangkut pelajar.
Namun, menurutnya, persoalan utama saat ini adalah belum adanya payung hukum yang jelas untuk mengatur operasional kendaraan tersebut. “Jawabannya selalu tidak bisa karena belum ada regulasi. Sementara di lapangan, kendaraan ini terus beroperasi dan bahkan terus diproduksi,” kata Junaidi.
Baca Juga: Resmi Dilantik, Maruli Simanjuntak Emban Tugas Ganda di TNI
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Rilis