Ompreng Masih Utuh? BGN Mataram Racik 'Bank Menu' Biar Semua Siswa Lahap MBG

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:38 WIB
Dua orang siswa lebih memilih menyantap bekal dari rumah daripada menikmati MBG. Tampak ompreng MBG hanya ditaro di samping.
Dua orang siswa lebih memilih menyantap bekal dari rumah daripada menikmati MBG. Tampak ompreng MBG hanya ditaro di samping.

 

LombokPost – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Mataram masih menghadapi tantangan dalam menyesuaikan menu makanan dengan selera siswa. Meski tingkat kesukaan siswa diklaim mencapai 90 persen, masih ada 10 persen lainnya yang belum terakomodasi dengan formula menu yang tersedia.

 

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) untuk Kota Mataram, M. Rizky Prasetya, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan bank menu untuk meningkatkan penerimaan makanan MBG di kalangan peserta didik.

 

Menurut Rizky, penyusunan bank menu tersebut melibatkan para chef yang dikumpulkan oleh pimpinan BGN di tingkat pusat. Menu-menu yang disusun nantinya menjadi acuan bagi ahli gizi dan pengawas gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menentukan makanan yang akan didistribusikan kepada siswa.

 

“BGN lagi membuat bank menu, yang mana menu-menu itu disesuaikan dengan kegemaran siswa. Jadi, itu memang lagi diolah oleh yang berkompeten di bidangnya di pusat agar semua anak suka dengan menu-menu tersebut,” ujarnya.

 

Persoalan selera ini menjadi perhatian setelah ditemukan siswa yang memilih membawa bekal sendiri dari rumah. Bahkan, terdapat makanan MBG yang tidak disentuh sama sekali oleh penerima manfaat.

Baca Juga: Angka Anemia Remaja Tembus 58 Persen! TP UKS Mataram Sentil 55 Sekolah yang Absen Aksi Bergizi

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan makanan bergizi tidak cukup hanya mengandalkan standar kandungan gizi. Cita rasa dan preferensi anak juga menjadi faktor penting agar makanan yang dibagikan benar-benar dikonsumsi.

 

Rizky menjelaskan, evaluasi terhadap menu yang disajikan dilakukan dengan memperhatikan ompreng yang dikembalikan ke SPPG. Sisa makanan menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat penerimaan siswa terhadap menu tertentu.

 

“Kalau misalnya banyak dari makanan itu tidak dikonsumsi oleh anak-anak, untuk ke depannya tidak akan didistribusikan lagi. Jadi, kita membuat variasi menu lagi,” jelasnya.

 

Meski demikian, evaluasi tersebut masih perlu memastikan alasan makanan tidak dihabiskan. Sebab, makanan yang tersisa tidak selalu menunjukkan bahwa siswa tidak menyukai rasanya. Porsi, kebiasaan makan, maupun kondisi saat penyajian juga dapat memengaruhi konsumsi makanan.

 

Di sisi lain, penyediaan variasi menu tetap harus memperhatikan standar gizi dan keamanan pangan. Rizky mengatakan, terdapat standarisasi penggunaan bahan dalam penyusunan makanan MBG, termasuk bahan-bahan yang tidak diperbolehkan.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Pintar! Wali Kota Mataram Ungkap Senjata Rahasia Sukses di Masa Depan

Khusus di Kota Mataram, Rizky menyebut tingkat kesukaan siswa terhadap menu MBG mencapai 90 persen. Sementara itu, 10 persen sisanya masih menjadi bahan kajian untuk menemukan formula yang lebih sesuai.

 

“Kalau untuk di Kota Mataram, tingkat persentasenya sampai 90 persen. Yang 10 persen masih kita cari formula terbaik,” katanya.

 

Ia menambahkan, pihaknya masih mempelajari faktor yang memengaruhi tingkat penerimaan makanan pada kelompok siswa tersebut. Karena itu, penyusunan bank menu diharapkan dapat membantu menghadirkan pilihan makanan yang lebih sesuai dengan kegemaran peserta didik.

 

“Nah, itu kami masih pelajari lagi tingkat minat dari siswa-siswanya,” pungkasnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Bank Menu MBG Badan Gizi Nasional Makan Bergizi Gratis Kota Mataram Korwil BGN Mataram Rizky Prasetya