Manfaatkan Sampah Organik Tempah Dedoro, Distan Mataram Perluas Kebun Cabai Pagutan

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 16:25 WIB
Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri dan Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Johari saat memetik cabai di BPP Pertanian, Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri dan Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Johari saat memetik cabai di BPP Pertanian, Kota Mataram, beberapa waktu lalu. 

 

 

LombokPost – Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram memperluas areal tanam cabai di Pagutan dari 1.700 meter persegi menjadi 2.900 meter persegi. Ekspansi lahan seluas 1.200 meter persegi ini lmenjadi bagian dari upaya menjaga pasokan komoditas yang kerap memicu gejolak harga. 

Menariknya, pengembangan kebun cabai tersebut turut memanfaatkan lahan tidur dan pupuk kompos dari pengolahan sampah organik. Kepala Distan Kota Mataram Lalu Johari mengatakan, lahan tambahan yang berada di sekitar Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sebelumnya belum dimanfaatkan secara produktif. 

“Areal yang kami kelola merupakan lahan tidur di sekitar BPP. Setelah digarap bersama kelompok cabai setempat, kawasan tersebut bisa dimanfaatkan menjadi kebun cabai,” ujarnya, Minggu (25/10).

Perluasan ini dilakukan setelah budidaya di lahan awal menunjukkan hasil yang dinilai memuaskan. Kelompok Cabai Harum Pagutan tercatat telah melakukan panen sebanyak 10 kali. Pada panen terakhir, hasil yang diperoleh mencapai sekitar dua kuintal cabai.

Capaian tersebut menjadi modal meningkatkan produksi melalui penambahan areal tanam. Saat ini, pengolahan lahan tambahan tengah dipersiapkan agar penanaman dapat dimulai pada awal November 2026.

“Hasil panen sejauh ini cukup memuaskan. Karena itu, kami berupaya memperluas areal tanam agar produksi cabai bisa terus ditingkatkan,” kata Johari.

Langkah ini memiliki relevansi dengan persoalan harga cabai di Kota Mataram yang beberapa kali mengalami lonjakan tajam. Pada Januari 2026, harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional sempat mencapai Rp 70 ribu per kilogram.

Bahkan, pada Februari 2026, harga cabai rawit merah di sejumlah titik dilaporkan melonjak hingga lebih dari Rp 100 ribu per kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan betapa rentannya pengeluaran rumah tangga terhadap perubahan pasokan komoditas tersebut.

 

Baca Juga: Cerita Pemuda Desa Ubah Nasib Wisata, Mengukir Kemandirian Wisata Gunung Jae di Tengah Keterbatasan

Johari mengatakan, pengembangan cabai di tingkat kelompok tani maupun pemanfaatan pekarangan rumah tangga diharapkan dapat membantu memperkuat ketersediaan pasokan. Masyarakat juga didorong menanam cabai sendiri agar memiliki alternatif sumber kebutuhan dapur ketika harga di pasaran meningkat.

“Masyarakat juga bisa lebih hemat karena tidak harus selalu mengeluarkan uang untuk membeli cabai,” ungkapnya.

Di sisi lain, perluasan kebun cabai tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan. Distan Kota Mataram juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melalui program Tempah Dedoro untuk memanfaatkan sampah organik sebagai pupuk kompos.

Sampah daun dan limbah organik warga yang diolah di tingkat lingkungan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kesuburan lahan pertanian. “Sampah organik yang selama ini diolah melalui program Tempah Dedoro dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertanian. Dengan begitu, pengelolaan sampah dan peningkatan produksi cabai bisa berjalan beriringan,” tutup Johari.

Meski demikian, perluasan lahan belum otomatis menjamin harga cabai di pasar akan lebih stabil. Produksi harus dijaga secara berkelanjutan, sementara waktu panen dan distribusi perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar. 

Faktor cuaca juga tidak bisa diabaikan. Asisten II Setda Kota Mataram Miftahurrahman sebelumnya mengingatkan musim hujan dapat meningkatkan risiko kerusakan komoditas hortikultura.

“Sebaliknya, saat musim hujan komoditas tersebut rentan memicu pembusukan dan kenaikan harga akibat pembeli yang enggan mengambil risiko jika membeli banyak,” katanya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
kebun cabai mataram Distan Kota Mataram harga cabai