LombokPost - Di tengah gempuran rilisan single dan musik digital serba instan, Gugun Blues Shelter (GBS) kembali hadir membuktikan bahwa album utuh masih punya tempat istimewa.
Lewat Live Unplugged, band blues rock legendaris asal Jakarta ini menyajikan sebuah karya penuh jiwa mentah, jujur, dan terasa seperti sedang menyaksikan mereka di depan mata.
Dirilis 25 April 2025 secara digital di semua platform musik streaming, Live Unplugged adalah proyek eksperimental yang mengupas kembali 10 lagu ikonik dalam perjalanan panjang GBS, diaransemen ulang secara akustik.
Lagu-lagu seperti "$20", Mobil Butut, hingga Heart Breaker tampil tanpa lapisan distorsi elektrik, memberi ruang bagi dinamika suara yang lebih intim dan raw.
Visual konsernya yang direkam di Rendezvoo Coffee & Eatery, Cipete, dan kini tayang di kanal YouTube AFE Records, makin memperkuat nuansa personal dari album ini.
Bukan di studio steril, bukan dengan puluhan take. Semua direkam live dalam satu kali jalan.
“Ini bukan rekaman per potongan. Sekali jalan dari awal sampai akhir. Kalau ada salah ya sudah, itu yang bikin hidup,” ujar Gugun dalam sesi jumpa pers 2 Mei 2025 lalu.
Bersama Donny Foru dan Refki Nanda, proyek ini menjadi semacam pernyataan sikap: kembali ke akar, dan tetap relevan tanpa kehilangan ruh.
Meski sempat di-overdub pada beberapa bagian perkusi demi penyempurnaan, inti dari album ini tetap mempertahankan rasa ‘langsung’ dan spontan.
“Kesannya kayak lu nongkrong sambil nonton kita main di depan mata,” ujar Gugun.
Uniknya, hanya tiga dari sepuluh lagu yang berasal dari album Coming Out (2023). Sisanya adalah materi lama yang dihidupkan ulang.
Inisebagai bentuk penghormatan pada sejarah band sekaligus pengingat bahwa blues, dengan segala kesederhanaannya, masih punya tempat di tengah riuh tren musik hari ini.
Di tengah fakta bahwa kini Gugun adalah satu-satunya personel aktif GBS, Live Unplugged juga menjadi bukti dedikasi dan cinta terhadap musik yang tak pernah padam.
“Sekarang tinggal saya sendiri, tapi saya ingin kasih sesuatu yang segar buat pendengar. Ini cara saya tetap setia pada blues,” tutupnya.(***)
Editor : Alfian Yusni