Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kolintang X Balafon: Lagu “Oh Minahasa” dan “Haiti” Jadi Senjata Diplomasi Budaya Indonesia

Alfian Yusni • Minggu, 29 Juni 2025 | 13:23 WIB
Menteri Fadli Zon menyebut Kolintang kini menjadi simbol soft power diplomasi budaya Indonesia yang strategis. (Foto: instagram)
Menteri Fadli Zon menyebut Kolintang kini menjadi simbol soft power diplomasi budaya Indonesia yang strategis. (Foto: instagram)

LombokPost - Kolintang dan Balalafon kini jadi bintang dalam panggung diplomasi budaya dunia.

Dua alat musik tradisional dari dua benua itu dipertemukan dalam karya musikal kolaboratif bertajuk “Oh Minahasa” dan “Haiti”.

Lagu ini diluncurkan di Artotel Senayan, Jakarta, Jumat (28/6), dengan kehadiran langsung Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Kolintang, alat musik tradisional asal Minahasa, Sulawesi Utara. Sedangkan Balafon, alat musik perkusi khas Afrika Barat, dipadukan lewat tangan musisi seperti Ita Purnamasari, Dwiki Dharmawan, dan Neo Akbar.

Lagu “Oh Minahasa” dibawakan dengan nuansa etnik khas Indonesia, sementara “Haiti” menonjolkan ciri Afrika yang kuat dari balafon.

Peluncuran lagu ini bukan sekadar pentas seni, tapi juga simbol diplomasi budaya usai kolintang resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO pada Desember 2024 lalu, bersama balafon dari Pantai Gading, Burkina Faso, dan Mali.

“Ini bukti bahwa musik tradisional seperti kolintang dan balafon bisa jadi bahasa universal yang menyatukan bangsa-bangsa,” kata Menbud Fadli Zon.

Ia menegaskan, Indonesia melalui PINKAN (Persatuan Insan Kolintang Nasional Indonesia) berhasil menjadikan kolintang tak hanya alat musik tradisional, tetapi juga simbol identitas budaya dan kekuatan soft power di kancah global.

Fadli Zon juga menyampaikan apresiasi pada musisi yang terlibat. Ita Purnamasari dan Dwiki Dharmawan dipuji atas kontribusinya memperluas jangkauan kolintang.

Tak ketinggalan, Neo Akbar, perajin sekaligus pemain Balafon, dinilai berhasil membangun “jembatan musikal” yang memperkuat relasi budaya lintas benua.

 

Kolintang dan Balafon = Sepupu Musikal

Dalam sesi diskusi, Neo Akbar menyebut kolintang dan balafon sebagai “sepupu musikal” karena kemiripan bentuk dan teknik permainan.

Menurutnya, sejarah telah memperlihatkan transfer budaya antara kedua alat musik tersebut.

"Balafon punya resonator dari labu. Kolintang punya bilah kayu yang disusun mirip. Bahkan pemain kolintang bisa main balafon dan sebaliknya,” ucap Neo.

Sementara itu, Dwiki Dharmawan mengaku jatuh cinta pada kolintang sejak kecil. Ia dibesarkan di lingkungan Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung, yang memperkenalkannya pada beragam alat musik Nusantara.

“Kolintang adalah identitas. Kita harus perjuangkan agar musik tradisional kita mendunia,” tegas Dwiki.

Jadi Simbol Baru Soft Power Indonesia

Menteri Fadli Zon menyebut Kolintang kini menjadi simbol soft power diplomasi budaya Indonesia yang strategis.

Pengakuan UNESCO atas kolintang bukan akhir perjuangan, tapi awal dari ekspansi budaya Indonesia melalui musik.

“Kolintang dan balafon adalah kekuatan kita dalam mempererat persahabatan global,” ujarnya.

Ketua Umum PINKAN Indonesia, Penny Iriana Marsetio, menyebut peluncuran lagu ini sebagai bentuk janji dan komitmen pada pelestarian kolintang setelah UNESCO memberi pengakuan.

“Kami tidak akan berhenti. Kolintang akan terus berbunyi di panggung dunia,” katanya.

 

Penampilan Langsung dan Kejutan Lagu “O Ina Ni Keke”

Peluncuran ini makin meriah lewat pemutaran video musik “Oh Minahasa” dan “Haiti”, disusul penampilan langsung para musisi.

Tak disangka, Fadli Zon turut naik panggung membawakan lagu daerah “O Ina Ni Keke” dengan iringan kolintang dan balafon.

Momentum ini menegaskan kembali bahwa musik tradisional bukan barang museum, tapi instrumen hidup yang bisa menyatukan sejarah, diplomasi, dan identitas bangsa.

Kolintang, Musik Tradisional, dan Masa Depan

Menbud Fadli menegaskan pentingnya regenerasi dalam pelestarian budaya. Ia berharap semakin banyak anak muda yang tertarik memainkan Kolintang dan Balafon.

“Cara terbaik melestarikan budaya adalah dengan terus berkarya dan merayakannya,” pungkasnya. (***)

Editor : Alfian Yusni
#PINKAN #fadli zon #Balafon #kolintang