LombokPost - Superman Is Dead (SID) menegaskan bahwa mereka tidak mempermasalahkan jika lagu-lagu SID dibawakan ulang oleh siapa pun, bahkan tanpa izin resmi.
Hal ini ditegaskan langsung oleh personel band punk rock asal Bali itu dalam konferensi pers menjelang konser akbar mereka, Distorsi Tiga Dekade, yang akan digelar pada 17 Agustus 2025 di Jakarta.
Bagi SID, lagu seperti “Tak Masalah” dan lagu-lagu SID lainnya boleh dinyanyikan ulang tanpa prosedur rumit.
Sikap terbuka ini dinilai sebagai bentuk promosi organik yang selaras dengan semangat kebebasan dalam musik punk rock Indonesia.
Dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan (16/7), vokalis SID, Bobby Kool, menyatakan bahwa siapa pun bebas menyanyikan lagu SID. “Enggak perlu izin yang ribet-ribet begitu, santai aja,” ujarnya.
Bassist SID, Eka Rock, menyebut bahwa prosedur perizinan justru membuat bingung. “Kalau mau izin seperti apa? Kami juga bingung,” katanya.
Senada dengan itu, Jerinx, drummer SID, mengatakan bahwa membalas izin satu per satu adalah hal yang melelahkan. “Kami enggak punya waktu buat balas-balas izin kayak gitu. Capek.”
Superman Is Dead justru melihat pembawaan ulang lagu SID sebagai bentuk apresiasi, terutama jika nama mereka tetap dicantumkan atau ditandai di media sosial. “Itu promosi juga kalau ditag dan disebut namanya,” tambah Bobby.
Sikap ini mempertegas identitas SID sebagai band punk rock yang antiribet, membumi, dan menjunjung semangat solidaritas di industri musik.
SID kini bersiap untuk menggelar konser Distorsi Tiga Dekade di Ex Hanggar Teras Pancoran, Jakarta Selatan.
Konser ini menjadi perayaan 30 tahun perjalanan Superman Is Dead sejak berdiri pada 1995. Gelaran ini dipromotori oleh 86 Production dan dipastikan akan menjadi konser terbesar SID tahun ini.
Promotor Boudewijn “Boy” Satrio Negoro menyebut konser Distorsi Tiga Dekade akan menghadirkan panggung megah dengan setlist dan visual panggung yang berbeda dari sebelumnya.
Tak hanya SID, sejumlah band seperti The Jansen dan Stand Here Alone juga akan tampil sebagai pembuka. Bahkan, ada pula band-band baru hasil kurasi terbuka untuk mendukung regenerasi punk rock Indonesia.
Tiket konser bisa dibeli lewat aplikasi Tip Tip, dan merchandise khusus edisi 30 tahun juga akan tersedia di lokasi, termasuk kaus bertanda tangan personel.
Konsistensi formasi yang tak pernah berubah sejak 1995 jadi salah satu kunci kekompakan Superman Is Dead.
Pembagian fee yang adil dan memilih tinggal di Bali, jauh dari hiruk-pikuk industri musik ibu kota, menjadi cara mereka menjaga idealisme punk.
Superman Is Dead membuktikan bahwa eksistensi 30 tahun bukan sekadar angka, melainkan perjalanan membela kebebasan dalam bermusik.
Melalui konser Distorsi Tiga Dekade, band punk rock Bali ini ingin menyalakan kembali semangat punk rock Indonesia, sambil tetap menyuarakan bahwa lagu-lagu SID boleh dibawakan ulang oleh siapa pun, tanpa izin dan tanpa ribet. (***)
Editor : Alfian Yusni