LombokPost - Bimo Sulaksono blak-blakan membongkar pengalamannya saat menjadi drummer Dewa 19.
Mantan penggebuk drum Netral dan Romeo itu mengaku masuk ke Dewa 19 bukan sebagai anggota tetap, melainkan “pemain pinjaman” setelah diajak Ahmad Dhani usai proyek Ahmad Band.
Awalnya, Bimo sempat ragu menerima tawaran itu. Ia merasa tidak enak dengan Aksan Sjuman—drummer resmi Dewa 19 saat itu—karena bahkan pernah menumpang tidur di rumahnya. Namun, Dhani bersikeras.
“Udah bisa lah lo belajar-belajar sebentar, anggap aja eksperimen,” kata Bimo menirukan ucapan Dhani dalam kanal YouTube Wawan Juniarso Channel.
Kesempatan itu datang saat konser tunggal Dewa 19 di TPI, di mana Bimo diminta membawakan 16 lagu sekaligus. Ia pun siap latihan.
Sayangnya, yang datang hanya Andra Ramadhan. Sementara personel lain, termasuk Ahmad Dhani, sama sekali tidak tampak.
“Latihan nggak ada yang pernah dateng, cuma si Dhani doang pas udah mau kelar. Nanya, ‘eh gimana, udah bisa semua?’ Lah, gimana bisa, wong nggak ada yang latihan,” ungkap Bimo sambil tertawa getir.
Meski musik Dewa 19 lebih pop, Bimo menyebut kelakuan para personelnya tetap kental dengan aura rock n roll.
“Jiwanya rock n roll, walaupun musiknya pop. Jadi ya babak belur juga kelakuannya,” ucapnya.
Karena minim persiapan, penampilan Dewa 19 di konser TPI yang direkam televisi itu berantakan. Bimo bahkan menyebut dirinya jadi sasaran kritik penonton.
“Wah, drummer bego banget ini. Ya gimana, nggak latihan, nggak check sound. Akhirnya tampil begitu deh,” kenangnya.
Meski begitu, chemistry dengan Dewa 19 tetap terjalin. Bimo beberapa kali ikut tur konser di berbagai kota.
Bahkan, Aquarius sempat menawarinya kontrak resmi menjadi drummer tetap Dewa 19 dengan nilai Rp70 juta per personel. Namun, Bimo menolak.
Alasannya sederhana: idealisme. Ia merasa lebih cocok dengan warna musik Ahmad Band dan proyek barunya bersama Romeo, yang lebih rock dibanding pop ala Dewa 19.
“Gue idealis banget waktu itu. Nggak cocok aja kalau harus ngikutin jalur Dewa 19,” tuturnya.
Kisah ini semakin menegaskan betapa dunia musik di era 90-an penuh cerita tak terduga.
Dewa 19 dengan segala disiplin ala kadarnya tetap melahirkan karya legendaris, sementara Bimo memilih jalan berbeda demi mempertahankan jati diri musikalnya. (***)
Editor : Alfian Yusni