LombokPost - Paul McCartney akhirnya angkat suara soal teori konspirasi paling gelap dalam sejarah musik dunia: “Paul is Dead.”
Teori legendaris yang menuding dirinya tewas dalam kecelakaan mobil dan digantikan oleh sosok mirip pada pertengahan 1960-an itu, kini dijawab langsung oleh sang legenda The Beatles.
Namun yang mengejutkan, Paul McCartney tidak sepenuhnya membantah. Ia justru mengakui bahwa dalam arti tertentu, “sebagian dirinya memang mati”, tepat saat The Beatles bubar.
Teori konspirasi Paul is Dead pertama kali beredar pada 1966, lalu meledak pada 1969. Kala itu, jutaan orang percaya McCartney telah meninggal dunia.
Isu liar ini dipicu oleh seorang disjoki Amerika yang menafsirkan “tanda-tanda” kematian Paul dari lagu dan cover album The Beatles.
Sampul album Abbey Road (1969) menjadi pusat teori tersebut. John Lennon dianggap sebagai pendeta, Ringo Starr sebagai pelayat, George Harrison sebagai penggali kubur, dan McCartney, yang berjalan tanpa alas kaki serta tak selaras langkahnya, diyakini sebagai jenazah.
Dalam buku barunya berjudul “Wings: The Story of a Band on the Run,” Paul McCartney menyebut rumor itu “aneh tapi menarik”.
Ia mengaku sempat menertawakan kabar gila tersebut bersama sang istri, Linda. Namun kini, setelah lebih dari setengah abad, ia melihatnya dari sisi yang lebih dalam.
“Sekarang setelah lebih dari 50 tahun, saya pikir rumor itu lebih akurat daripada yang orang kira,” tulis McCartney, dikutip Mirror, Senin (3/11).
Menurutnya, saat The Beatles bubar, ia memang merasa mati secara emosional. “Dalam banyak hal, saya memang mati, seorang mantan Beatle berusia 27 tahun yang tenggelam dalam perselisihan hukum dan pribadi. Saya butuh perubahan total,” ungkapnya.
Setelah band bubar, Paul McCartney memilih mengasingkan diri ke peternakan domba di Skotlandia bersama Linda dan anak mereka, Mary.
Di sanalah ia menemukan kedamaian baru dan mulai bangkit sebagai individu, bukan sekadar ‘mantan Beatle’.
Ironisnya, pengasingan itu justru “menghidupkan” lagi teori Paul is Dead. Banyak penggemar menganggap menghilangnya McCartney sebagai bukti tambahan bahwa ia sudah tiada.
Padahal, ia hanya berusaha hidup jauh dari hiruk-pikuk dunia yang terus menuntutnya jadi legenda.
Kini, di usia senjanya, Paul McCartney justru berdamai dengan teori yang dulu menghantuinya.
Ia tak lagi membantah, tapi mengakui sisi metaforis dari “kematian” itu, kematian seorang Beatle, dan kelahiran musisi baru yang akhirnya menemukan dirinya sendiri. (***)
Editor : Alfian Yusni