Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

AI Kuasai Billboard! Lagu “Walk My Walk” Pecahkan Rekor, Industri Musik Kian Cemas

Alfian Yusni • Selasa, 18 November 2025 | 11:52 WIB
Musik AI bukan hanya eksperimen teknologi, tetapi kekuatan baru dalam industri hiburan. (ist)
Musik AI bukan hanya eksperimen teknologi, tetapi kekuatan baru dalam industri hiburan. (ist)

LombokPost - Fenomena lagu AI kembali mencuri perhatian. Untuk pertama kalinya, sebuah lagu AI berjudul “Walk My Walk” dari artis virtual Breaking Rust berhasil menempati posisi puncak Billboard AS.

Kemenangan musik AI ini bukan sekadar sensasi, tetapi sinyal bahwa era baru industri hiburan telah dimulai.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, Walk My Walk meraup lebih dari tiga juta stream di Spotify dan langsung memuncaki Country Digital Songs Billboard.

Popularitas lagu AI ini juga merembet ke Spotify Viral 50 AS, menjadikannya salah satu rilis paling dibicarakan di kalangan pendengar digital.

Kesuksesan musik AI tidak berhenti di satu lagu. Lagu Breaking Rust lainnya, “Livin' on Borrowed Time”, menembus posisi lima besar di chart yang sama dengan total empat juta stream.

Identitas Pencipta Misterius, Penggemar Meledak di TikTok

Meski mendominasi chart, identitas kreator di balik Breaking Rust tetap misterius. Akun TikTok mereka kini menembus 200 ribu pengikut, dengan Walk My Walk sudah dipakai di lebih dari 150 ribu video.

Makin jelas bahwa musik AI bukan hanya eksperimen teknologi, tetapi kekuatan baru dalam industri hiburan.

Fenomena ini datang setelah beberapa artis virtual AI seperti The Velvet Sundown dan Xania Monet ikut meraih jutaan pendengar serta bahkan menandatangani kontrak jutaan dolar.

Industri Musik Kian Cemas: AI Disebut “Tak Bisa Dibela”

Ledakan popularitas musik AI memicu kecemasan besar di kalangan musisi. Penyanyi R&B Kehlani menjadi salah satu yang paling vokal, menyebut bahwa musik AI berkembang “di luar kendali” dan berpotensi mengabaikan pencipta asli yang karyanya digunakan sebagai bahan pelatihan.

Baca Juga: Apple Ubah Jadwal Rilis iPhone 2026, Dua Musim Sekaligus Bikin Industri Smartphone Gelisah

“Tidak ada yang bisa membenarkan AI bagi saya,” ujarnya.

Kelompok rock Holding Absence juga mengecam bagaimana band AI dapat melampaui angka streaming mereka tanpa proses kreatif manusia di baliknya.

97% Orang Tak Bisa Bedakan Musik AI dan Musik Manusia

Kekhawatiran itu semakin kuat setelah survei global Deezer–Ipsos menunjukkan 97% pendengar tidak bisa membedakan antara lagu AI dan lagu buatan manusia. Temuan ini menyoroti betapa dominannya musik AI dalam mempengaruhi selera publik.

 Baca Juga: Akhir Era MTV: Saluran Musik Tutup Desember 2025, Fokus ke Digital

Dari 9.000 responden di delapan negara:

Deezer mencatat kini ada lebih dari 50.000 lagu AI per hari masuk platform, sepertiga dari total unggahan.

Baca Juga: Fakta Baru Ozzy Osbourne: Ternyata Sempat Dirawat Diam-Diam sebelum Konser Perpisahan

Platform Musik Mulai Batasi Lagu AI

Deezer mulai menerapkan pelabelan musik AI, mengeluarkan lagu AI dari playlist editorial, dan meninjau ulang sistem royalti. CEO Alexis Lanternier menegaskan bahwa kreativitas manusia harus tetap dilindungi.

Di sisi lain, Universal Music Group (UMG) kini mulai berdamai dan bekerja sama dengan perusahaan AI Udio untuk membuat platform musik berbasis AI berlisensi pada 2026.

AI dan Hak Cipta Kian Rumit

Di Eropa, isu musik AI memanas setelah pengadilan di Munich menyatakan bahwa ChatGPT melanggar hukum hak cipta Jerman karena mereproduksi lirik lagu tanpa izin.

Sementara itu, survei Luminate di AS memperlihatkan publik lebih menerima AI untuk visual film, tetapi masih skeptis pada naskah dan aktor sintetis. Dunia hiburan kini berada di persimpangan besar antara inovasi dan etika. (***)

Editor : Alfian Yusni
#Walk My Walk #musik AI #Breaking Rust #Lagu AI #Billboard