Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Hanya di Indonesia, Separo Siswa di Dunia Tak Sekolah Karena Korona

Administrator • Kamis, 19 Maret 2020 | 16:18 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

PANDEMI Covid-19 tidak hanya mengancam perekonomian, tapi juga pendidikan. UNESCO mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari 850 juta anak tidak bisa sekolah. Sebab, sekolah-sekolah dan universitas ditutup untuk menekan penularan. Jumlah tersebut setara dengan separo populasi pelajar di dunia.


’’Ini adalah tantangan yang belum pernah ada sebelumnya di dunia pendidikan.’’ Demikian bunyi pernyataan UNESCO kemarin (18/3) seperti dikutip Agence France-Presse.


Lembaga yang berbasis di Paris, Prancis, itu mengungkapkan bahwa 102 negara sudah menutup lembaga pendidikan mereka. Sedangkan 11 negara lainnya melakukan penutupan sebagian. Menilik Covid-19 belum memiliki tanda-tanda bakal menghilang, jumlah tersebut akan terus bertambah.


Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 mungkin bakal tinggal lebih lama. Sebab, hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin yang ditemukan untuk menanggulangi penyakit yang bisa merenggut nyawa itu. Karantina hanya membeli waktu agar fasilitas kesehatan tidak kewalahan.


Di Amerika Serikat (AS) virus tersebut sudah berada di 50 negara bagian. West Virginia adalah yang paling terakhir kena. Mereka melaporkan kasus positif Covid-19 pada Selasa (17/3). Secara nasional, saat ini ada 6.300 kasus dan 108 kematian lantaran virus korona di AS.


Presiden AS Donald Trump mengusulkan untuk memberikan bantuan dana segar ke penduduk dan perusahaan. Tujuannya, beban ekonomi yang mereka tanggung akibat Covid-19 bisa lebih ringan. Usul sebanyak USD 1 triliun (Rp 15,27 kuadriliun) itu kini sedang digodok Kongres. Keputusannya bisa diketahui 1–2 pekan mendatang.


’’Saat ini penduduk AS membutuhkan uang tunai,’’ ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin seperti dikutip Al Jazeera.


Sementara itu, Uni Eropa (UE) sepakat menyetujui penutupan perbatasan terluar mereka. Hanya warga UE yang boleh berlalu-lalang, itu pun terbatas. Sedangkan dari luar UE, hanya kendaraan yang mengangkut kebutuhan pangan, obat, serta para petugas medis. Itu berlangsung selama 30 hari ke depan.


Prancis menerapkan kebijakan yang paling ketat. Penduduk yang keluar rumah harus membawa dokumen yang menunjukkan alasan mereka bepergian. Jika keluar tanpa alasan, mereka didenda. Di Italia, korban meninggal mencapai 2.503 orang dan yang terinfeksi 31.506 orang.


Di Timur Tengah, Iran tetap yang terdampak paling parah. Hampir seribu orang meninggal di Negeri Para Mullah itu. Saat ini Iran mempertimbangkan untuk membebaskan tahanan di negara tersebut. Pasalnya, penjara di Iran penuh dan ditakutkan menjadi sumber penularan.


Beberapa pakar menilai bahwa gelombang kedua wabah Covid-19 sedang melanda Asia. Korban di Asia terus berjatuhan. Baik itu yang hanya tertular maupun yang korban meninggal.


Direktur WHO wilayah regional Asia Tenggara Poonam Khetrapal Singh meminta negara-negara di wilayahnya untuk berusaha lebih keras dalam menghadapi Covid-19. Sebab, saat ini lebih banyak klaster dan penularan. ’’Kita perlu segera meningkatkan semua upaya untuk mencegah virus menginfeksi lebih banyak orang,’’ tegas Singh.


Persebaran Covid-19 di Afrika juga mulai merangkak naik. Di Afrika Selatan (Afsel) ada 116 kasus. Sebanyak 14 di antaranya tidak pernah ke luar negeri. Artinya, terjadi penularan lokal. Di antara mereka adalah empat anak-anak yang masih balita.


Di Kenya ada tambahan tiga kasus baru. Kini tujuh orang dipastikan positif Covid-19. Dua di antara tiga kasus baru itu adalah pasangan yang baru melakukan perjalanan ke Spanyol yang saat ini termasuk negara Eropa yang terdampak cukup parah. (sha/c10/dos/JPG/r6)

Editor : Administrator
#Virus Korona #Coronavirus #Covid-19