Di Jakarta, setidaknya terdapat lima titik aksi pembakaran dan perusakan kendaraan. Polda Metro Jaya menduga aksi itu dilakukan kelompok anarko. Pantauan Jawa Pos kemarin siang, pembakaran terjadi di pos polisi Patung Kuda dan Harmoni. Lalu, sorenya api membakar dua halte bus Trans Jakarta di Sarinah dan Bundaran HI.
Perusakan mobil polisi juga terjadi di Tangerang. Hingga kemarin belum diketahui siapa pelaku kerusuhan tersebut. Namun, selama ini kelompok anarko disebut polisi sebagai kelompok yang berupaya membuat kerusuhan. Kamis lalu Polda Metro Jaya menangkap 40 orang yang diduga angota kelompok anarko. Jumlah yang ditangkap terus meningkat hingga sore. Menurut Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Yusri Yunus, hingga pukul 17.00, yang diamankan hampir 500 orang. ’’Sebagian diduga adalah kelompok anarko, bukan mahasiswa dan buruh,’’ paparnya kemarin.
Karena itu, polisi menduga pembakaran dan perusakan di Jakarta juga dilakukan kelompok anarko. ’’Ada arah ke anarko ini,’’ papar mantan Kabidhumas Polda Jawa Barat tersebut.
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menampik kabar keterlibatan mahasiswa dalam aksi anarkistis kemarin (8/10). Koordinator Media BEM SI Andi Khiyarullah menuturkan, mahasiswa mulai menarik diri sejak sore setelah terjadi chaos. Mahasiswa ditarik mundur pukul 15.30 WIB untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tak berselang lama, pukul 16.30 WIB, seluruh massa BEM SI ditarik mundur. ”BEM SI satu komando, tarik mundur setelah chaos,” tegasnya.
Disingung soal aksi kekerasan yang diterima mahasiswa, Andi mengaku belum ada laporan resmi. Hingga kemarin petang, tim dari setiap perguruan tinggi masih sibuk mengevakuasi massa aksi masing-masing. Massa mahasiswa berkumpul sejak pagi di sekitar gedung Grapari, Jakarta Pusat. Niat mereka menuju istana dicegat oleh aparat. Sekitar 5 ribu mahasiswa turun ke jalan untuk memperjuangkan hak rakyat yang telah dirampas melalui UU Cipta Kerja.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut Jokowi mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) untuk membatalkan UU Cipta Kerja. ”Kami sepakat menolak dan mengusahakan alternatif lain seperti judicial review dan mendesak presiden mengeluarkan perppu,” tegasnya.
Aksi di Surabaya
Di Surabaya, unjuk rasa juga diwarnai perusakan sejumlah fasilitas publik. Termasuk mobil operasional Polda Jatim. Demonstrasi berlangsung di tiga titik. Yaitu, depan Gedung Negara Grahadi, kantor gubernur Jatim, dan depan kantor DPRD Jatim. Namun, konsentrasi massa terpusat di depan Grahadi, Jalan Gubernur Suryo. Massa berdatangan sejak siang. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 10 ribu orang. Akibatnya, jalan utama di Kota Pahlawan itu lumpuh total.
Situasi mulai tidak terkendali sekitar pukul 14.00. Massa melempari aparat dengan botol air mineral. Gulungan besi berduri yang dipasang memanjang di depan Grahadi diseret. Setelah itu, mereka merangsek masuk Grahadi dari sisi barat hingga pagar besinya jebol. ’’Hidup mahasiswa. Hidup rakyat,’’ teriak mereka.
Kian sore situasi makin tak terkendali. Karena massa terus bertahan di Grahadi, aparat Polda Jatim dan Polrestabes Surabaya bertindak. Gas air mata dan water canon dikerahkan untuk memukul mundur massa. Namun, aksi itu membuat para demonstran makin marah. Mereka melemparkan berbagai benda ke arah polisi. Pada pukul 15.20, massa merusak mobil operasional Polda Jatim, Mitsubishi Triton bernopol L 9335 PL.
Badan eksekutif mahasiswa (BEM) dari sejumlah kampus yang ikut dalam demonstrasi menolak anggapan bahwa tindakan anarkistis itu dilakukan oleh mahasiswa. Aktivis BEM Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Renaldi Putra Arbianto mengatakan, mahasiswa tetap fokus pada tujuan utama. Yaitu, menolak UU Cipta Kerja. ’’Kalau anarkis, ini bukan mahasiswa. Saya yakin mereka hanya penyusup,’’ ujarnya.
Para mahasiswa, lanjut dia, memiliki tanda pengenal dan ciri tersendiri. Yaitu, mengenakan jas almamater kampus. ’’Kalau yang tidak pakai jas, artinya bukan mahasiswa. Karena kita sudah sepakat,’’ ujarnya.
Serikat buruh juga menolak anggapan bahwa pelaku tindakan anarkistis itu bagian dari kelompoknya. Ketua Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM SPSI) Jatim Ali Muchsin menyampaikan, pihaknya tidak mungkin melakukan aksi anarkistis selama demo. ’’Yang anarkis itu bukan anggota buruh. Tujuan utama tetap menolak UU Cipta Kerja,’’ tegas Ali Muchsin.
Aksi di Malang
Aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja yang awalnya damai berubah beringas. Massa membakar satu mobil Honda CR-V milik Satpol PP Kota Malang. Tiga mobil lain dirusak. Termasuk bus milik Polres Batu. Aksi bakar ban, bakar flare, hingga melempari gedung DPRD tak terkendali. Suasana benar-benar chaos. Muncul dugaan, aksi itu ditunggangi ”penumpang gelap” alias pihak yang sengaja membuat skenario kekacauan.
Massa pendemo yang berjumlah lebih dari tujuh ribu orang itu akhirnya dihadang petugas kepolisan dengan gas air mata. Pendemo sempat mundur, tetapi mereka melawan dengan merusak sejumlah fasilitas umum. Tercatat ada 40 pendemo dan 4 personel polisi yang mengalami luka.
Data yang dihimpun koran ini, aksi massa dimulai pukul 09.00. Mereka berkumpul di Jalan Semeru, lalu bergerak menuju gedung DPRD. Mereka melanjutkan dengan berjalan menuju kawasan Alun-Alun Tugu. Di sana mereka berpencar. Elemen mahasiswa berkumpul di depan Balai Kota Malang. Elemen buruh berkumpul di depan Skodam. Sementara itu, di depan gedung DPRD, sudah ada massa berbaju hitam yang berangkat dari arah Stasiun Kotabaru. Aparat kepolisian dengan barikade lengkap sudah siaga melakukan penjagaan.
Memasuki pukul 11.30, benih-benih kericuhan mulai terasa. Diawali dengan bakar ban oleh salah seorang pendemo, dilanjutkan penerobosan barikade polisi. Pendemo lain pun terprovokasi dengan melemparkan batu kepada polisi dan gedung dewan.
Sementara itu, Adnan Magribi, perwakilan Aliansi Malang Melawan, menyatakan bahwa kerusuhan dipicu oleh penyusup. Mereka ingin memanfaatkan situasi untuk membuat kekacauan. ’’Intinya bukan dari Aliansi Malang Melawan. Kami tidak tahu datang dari mana para oknum tersebut,” ungkap dia.
Aksi di Jogjakarta
Aksi tolak UU Cipta Kerja di kawasan Malioboro, Jogjakarta, juga berujung kericuhan. Dampaknya, para pedagang kaki lima (PKL) kocar-kacir. Pengawas dan Penasihat Koperasi Paguyuban PKL Malioboro Tri Dharma Rudiarto sangat menyayangkan kericuhan tersebut. ’’Setelah ada tembakan gas air mata, kami tutup. Karena banyak pendemo yang berlindung di sekitar PKL, tampaknya gas air mata diarahkan ke kerumunan massa yang berbaur dengan PKL,’’ katanya. Kerusuhan itu baru pertama dirasakan para PKL. ’’Dulu pernah juga rusuh pada 1998, tapi tidak seheboh saat ini,’’ lanjutnya.
Kondisi berbeda tampak dalam aksi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Jogja dan BEM Nusantara di simpang tiga UIN Sunan Kalijaga kemarin (8/10). Aksi yang dimulai pukul 12.22 itu berlangsung damai. Massa mulai membuabarkan diri pukul 14.36.
Di Bandung, aksi unjuk rasa yang berlangsung selama tiga hari membuat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akhirnya menandatangani surat penolakan RUU Cipta Kerja. Dia akan mengirim surat itu kepada Presiden Joko Widodo dan DPR. ’’Saya sudah menandatangani surat pernyataan dari poin-poin aspirasi yang disampaikan buruh. Isinya satu, menolak dengan tegas UU Omnibus Law. Kedua, meminta kepada Bapak Presiden untuk minimal menerbitkan perppu karena proses UU ini masih ada 30 hari untuk direvisi dan ditandatangani,’’ ujar Ridwan Kamil saat mendatangi massa di luar Gedung Sate, Bandung, kemarin (8/10).
Ditemui secara terpisah, Ketua DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat Roy Jinto menyampaikan, surat rekomendasi tersebut merupakan hasil audiensi. Menurut dia, pihaknya hanya bisa menuntut pengajuan rekomendasi. Sebab, UU Omnibus Law tersebut kewenangan pemerintah pusat.
Pantauan Radar Bandung, massa yang sebagian besar merupakan gabungan buruh dari berbagai serikat, mahasiswa, dan pelajar berkumpul di depan Gedung Sate, Bandung, sejak siang. Jumlah demonstran berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan aksi dua hari sebelumnya.
Seperti dua hari sebelumnya, keributan terjadi tak lama setelah massa buruh bubar. Tak jelas pemicu awal keributan tersebut. Terlihat massa melempari polisi dengan batu. Bentrok itu berlangsung di area Gedung Sate. Kemudian, massa yang masih berada di sepanjang Jalan Diponegoro pun terbagi dua. Sebagian besar berada di depan gedung DPRD dengan membuat barikade, lainnya mundur ke area Lapangan Gasibu. Saat magrib, massa sempat salat berjamaah di jalan. Setelah itu, situasi memanas lagi. Akhirnya, bentrokan kembali terjadi. Massa kembali melempari kantor DPRD. Akhirnya, gas air mata dan water canon ditembakkan ke arah massa. Hingga pukul 20.40 tadi malam, Radar Bandung menerima laporan bahwa situasi di kampus Unisba dan Unpas kembali mencekam. Polisi masih menyisir massa aksi. (mar/edi/feb/idr/mia/c6/oni/JPG/ Editor : Administrator