Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lombok Hujan di Musim Kemarau, BMKG : Efek Monsun Australia

Administrator • Sabtu, 26 Juni 2021 | 00:16 WIB
Ilustrasi Hujan (Dok. Lombok Post)
Ilustrasi Hujan (Dok. Lombok Post)
MATARAM-Kondisi cuaca yang tidak biasa, terjadi beberapa hari terakhir. Hujan deras terus mengguyur Kota Mataram dan kabupaten kota lain yang ada di Pulau Lombok meski saat ini sudah masuk musim kemarau.

“Sesuai rilis kami sejak awal, prakiraan musim kemarau tahun ini lebih basah dibanding tahun sebelumnya. Sifat hujannya di atas normal,” terang prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Restu Patria Megantara kepada Lombok Post, kemarin (24/6).

Restu, sapaannya, menjelaskan suhu permukaan laut di wilayah NTB dan Indonesia terutama di wilayah selatan saat ini lebih hangat dibanding situasi normalnya. Ini menyebabkan penguapan lebih tinggi sehingga terjadi pembentukan awan lebih tinggi. Kejadian ini yang memicu terjadinya hujan.

Faktor lainnya, angin monsun timuran atau yang dikenal Monsun Australia di Bulan Juni dan Juli biasanya cukup kuat. Namun yang terjadi saat ini justru ada pelemahan menyebabkan perubahan pola angin.

“Permukaan laut yang hangat menyebabkan pembentukan awan ditambah Monsun Australia atau angin yang lemah, maka menyebabkan peluang hujan semakin tinggi,” paparnya.

Akibatnya anomali cuaca terjadi. Meskipun sedang musim kemarau tetapi hujan akhirnya terus mengguyur selama beberapa hari terakhir. Namun, Restu menjelaskan jika kategori hujan di musim kemarau ini tingkatnya rendah hingga menengah. Potensi bencana yang ditimbulkan juga tidak seperti saat musim hujan.

“Yang perlu diantisipasi adalah kejadian longsor di daerah perbukitan,” ucapnya mengingatkan.

Dampak hujan di musim kemarau ini dikatakannya ketersediaan air akan mencukupi. Khususnya di wilayah selatan yang selalu diresahkan dengan bencana kekeringan. Hanya saja beberapa komoditas pertanian seperti tembakau dan melon terancam gagal panen dengan cuaca seperti ini.

“Kalau dari pantauan kami hujan akan terjadi sampai awal juli. Kemudian kemarau akan kembali normal dan puncaknya sampai Agustus,” terang Restu.

Kabid Kesiapsiagaan BPBD Kota Mataram Arif Rahman mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG memantau cuaca yang terjadi saat ini. Akibat beberapa hari hujan, genangan memang terjadi di beberapa wilayah Kota Mataram. “Tapi sifatnya hanya genangan yang sebentar. Beberapa jam sudah mengering,” katanya.

Namun demikian, untuk saat ini Arif mengingatkan warga Kota Mataram agar tetap waspada. Karena potensi bencana genangan atau banjir, gempa, cuaca ekstrem menyebabkan pohon tumbang hingga pandemi Covid-19 masih mengintai. “Kalau Covid-19 ini kan menjadi prioritas negara,” cetusnya.

Terkait tergenangnya rumah dan pemukiman warga di sejumlah wilayah seperti Monjok, itu dijelaskannya disebabkan karena rumah warga lebih rendah dari saluran. Namun itu sudah ditangani sehingga ke depan hal seperti itu bisa diantisipasi. “Insya Allah potensi bencana ada tetapi tidak signifikan,” tandasnya. (ton/r3)

 

  Editor : Administrator
#kemarau #Hujan #Lombok