Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rabu 18 Agustus, Mataram Mulai Gelar Belajar Tatap Muka

Administrator • Rabu, 18 Agustus 2021 | 00:05 WIB
BATU PERTAMA: Peletakan batu pertama pembangunan SDN 4 Sambik Bangkol yang merupakan kerja sama ACT dan Jayaboard.
BATU PERTAMA: Peletakan batu pertama pembangunan SDN 4 Sambik Bangkol yang merupakan kerja sama ACT dan Jayaboard.
MATARAM-Setelah sempat ditunda, akhirnya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Mataram akan diterapkan. “Sesuai hasil rapat Satgas (Satuan Tugas) Penanganan Covid-19, PTM akan kita mulai Rabu (Besok, Red),” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram HL Fatwir Uzali usai rapat bersama Satgas Penanganan Covid-19 Kota Mataram di Ruang Kenari Kantor Wali Kota Mataram, kemarin (16/8).

Dalam rapat tersebut, hadir Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi, Dandim 1606/Mataram Kolonel Arm Gunawan, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr H Usman Hadi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Mahfuddin Noor, dan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya. Serta perwakilan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tingkat SD dan SMP.

Pantauan Koran ini, sejumlah sekolah, terutama yang berada di dalam lingkungan banyak yang tidak menyiapkan tempat cuci tangan dan handsanitizer. Pihak sekolah menyepelekan infrastruktur pencegahan Korona. Padahal di satu sisi, pembelian tempat cuci tangan, handsanitizer, sabun bisa dianggarkan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Nanti akan kita pantau dan awasi setiap sekolah ini,” tegas Fatwir.

Dalam rapat tersebut, yang menjadi titik tekan adalah pencegahan terhadap potensi terjadinya kerumunan. Sebab, sejumlah siswa kadang melakukan berbagai kegiatan di luar jam belajar yang menciptakan kerumunan.

Fatwir menuturkan, pada PTM kali ini tidak hanya melayani siswa belajar. Melainkan juga tentang bagaimana pencegahan Covid-19. “Intinya pencegahan Covid-19 bukan hanya di sekolah, tapi bagaimana melakukan gerakan pencegahan dengan melaksanakan PTM,” ujar mantan Kepala SMAN 1 Mataram ini.

Pada prinsipnya, kata dia, sesuai arahan Kapolresta dan Dandim, pencegahan Covid-19 di sekolah dengan menyiapkan tempat cuci tangan dan handsanitizer. Termasuk juga penjemputan dan pengantaran siswa ke sekolah tidak boleh ada kerumunan.

“Jam masuk siswa akan diatur guna mencegah kerumunan,” ujar Fatwir.

Dia akan intens melakukan evaluasi pada penerapan PTM kali ini. Paling tidak dalam satu pekan ada evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan pencegahan Covid-19 selama PTM berlangsung.

“Kita akan melakukan video conference dengan organisasi guru dan kepala sekolah terkait kebijakan sekolah dalam pencegahan Covid-19 selama PTM,” ucapnya.

Sejauh ini kata dia, tidak semua sekolah siap melaksanakan PTM karena terkendala fasilitas pencegahan Korona. Jadi dia akan meminta para sekolah yang siap melaksanakan PTM mendaftarkan diri. Karena sekolah yang siap harus jelas sarana dan prasarana pencegahan Covid-19 dan solusi menangani virus ini.

“Kita ingin PPKM level 3 turun menjadi level 2. Kalau ada sekolah yang belum siap, kita tidak bisa memaksa,” ucapnya.

Dia tidak menampik ada beberapa sekolah abai menerapkan prokes. Terutama sekolah yang berada di dalam lingkungan. Satuan pendidikan ini tidak menyiapkan tempat cuci tangan dan handsanitizer. Bahkan gurunya kadang tidak memakai masker.

“Kadang sekolah ini terpengaruh dengan lingkungan. Kita akan bentuk Satgas Covid-19 di setiap sekolah,” ujarnya.

Fatwir tidak segan-segan akan memberikan sanksi bagi sekolah yang abai menerapkan Prokes. Jika itu sekolah swasta akan dicabut izin operasionalnya. Sementara jika sekolah negeri pihaknya akan mengganti kepala sekolah tersebut.

“Kita akan berikan teguran dulu sebelum kita berikan sanksi,” cetusnya.

Diutarakan, skenario PTM sama seperti simulasi beberapa waktu lalu. Jumlah siswa di dalam ruang kelas maksimal 50 persen dari kapasitas. Misalnya, jika jumlahnya 30 orang maka yang masuk 15 orang.

“Kita akan gunakan sistem masuk bergantian. Kita juga minta jendela dibuka  saat proses belajar mengajar,” tuturnya.

Dia juga tidak memaksa siswa melaksanakan PTM. Karena ada saja orang tua khawatir anaknya belajar tatap muka. “Orang tua yang tidak mau anaknya ikut PTM akan difasilitasi belajar dalam jaringan (daring). Nanti sekolah akan buat surat kesepakatan dengan wali murid terkait PTM,” cetusnya.

Kepala BPBD Kota Mataram Mahfuddin Noor mengatakan, pencegahan Covid-19 dengan melakukan penyemprotan disinfektan di sekolah, perkantoran, dan instansi pemerintah lainnya sudah terjadwal. Bahkan pihaknya melayani diluar yang sudah terjadwal, baik itu yang sifatnya perorangan, kelompok, lembaga, organisasi, dan sebagainya.

“Untuk penyemprotan disinfektan tahap pertama di sekolah mungkin setiap hari kita lakukan saat pulang sekolah,” ujar Fudin. Baru kemudian lanjut dia,  dilakukan dua kali dalam sepekan.

Fudin akan melakukan kerja sama dengan Satgas Covid-19 sekolah untuk penyemprotan disinfektan. Bahkan pihaknya akan melakukan kordinasi dengan sekolah terkait alat penyemproran disinfektan apakah sudah ada atau tidak.

“Kita akan pastikan penyemprotan disnfektan tetap dilakukan,” ujar dia.

Dia menuturkan, sejauh ini masker dan alat cuci tangan sudah diberikan ke Disdik. Biasanya sekolah yang satu dengan yang lain beda-beda kebutuhan.

“Kita juga minta sekolah siapkan stok masker. Karena bisa saja satu dua anak kelupaan mambawa masker,” tukasnya.

Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram menyiapkan sarana dan prasarana pencegahan Covid-19 di setiap sekolah guna menerapkan PTM. Jangan samai sekolah dibuka, lonjakan kasus Covid-19 meningkat.

“Intinya kita taat menerapkan prokes mencegah penularan Covid-19,” ucap Mohan.

Mohan berharap PTM tetap dilaksanakan dengan menerapkan prokes. Karena menurutnya, jika siswa terlalu banyak di rumah, juga kurang baik. Sebab, anak-anak di usia sekarang ini membutuhkan pembelajaran tatap muka dengan guru dan teman-temannya.

“Saya rasa anak-anak juga akan jenuh kalau di rumah terus,” terang orang nomor satu di Kota Mataram ini.

Pada prinsipnya, Mohan menekankan, infrastruktur pada PTM ini harus dipersiapkan sekolah. Mulai dari tempat cuci tangan, handsanitizer, themral gun. Selain itu, model pembelajaran diatur agar tidak terjadi kerumunan. “Penerapan prokes harus jalan di sekolah,” tuturnya. (jay/r3)

  Editor : Administrator
#Kota Mataram #Belajar Tatap Muka #Pandemi