Saatnya Kakao Bali Menjadi Produk Ekspor Unggulan

Administrator • Dipublikasikan Rabu, 21 September 2022 | 15:30 WIB
Proses penjemuran kakao Bali yang dikelola Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya. (Foto: Istimewa)
Proses penjemuran kakao Bali yang dikelola Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya. (Foto: Istimewa)
JAKARTA-Perkebunan rakyat sudah barang tentu menghasilkan nilai ekonomi suatu produk di sentra produksi jika dijalankan dan dikelola dengan inovasi bisnis. “Begitu juga dengan basis perkebunan rakyat untuk komoditas kakao di Bali yang perlu terus didukung keekonomiannya dan bergandengan dengan potensi wisata di sana,” ujar Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah.

Ditambahkan, Bali merupakan salah satu provinsi dengan branding terkuat di Indonesia. Wisatawan mancanegara pun berbondong-bondong untuk menikmati wisata di sana. “Nah ini yang perlu ditangkap untuk kakao Bali bisa berbuat banyak di pasar ekspor karena dari wisata sudah punya nilai, tinggal dikemas dan dibranding dengan baik,” tambah Andi.

Ditjen Perkebunan akan terus memperhatikan sentra-sentra produksi kakao di Bali untuk bisa meningkatkan ekspor, mendukung program Gratieks.

Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya mengapresiasi peran pemerintah. Salah satunya Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan. “Kita selalu disupport. Salah satunya melalui pelatihan, sarana prasarana penunjang untuk proses di onfarm, benih yang bersertifikat, sarana prasarana penunjang fermentasi dan alat/mesin yang bermanfaat untuk pengolahan cokelat,” ungkap Ketua Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya I Ketut Wiadnyana.

Ia mengungkapkan berkat ketekunan dan komitmen bersama antara kelompok tani dan koperasi, kini mendulang sukses berkat kakao. "Kini Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya dampingan dari Kalimajari Bali telah rutin melakukan ekspor setiap tahun ke Perancis, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, Belgia sebanyak 0,5-15,5 ton per tahun," ujarnya.

Ia menceritakan Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya berdiri sejak 8 Mei 2006, dengan jumlah anggota sertifikasi sebanyak 609 orang. Produk turunan yang baru dihasilkan berupa Nibs kakao yang dijual ke lokal PT Bali, kakao kul-kul sebanyak 1 ton/bulan dan Bali Varenyam sebanyak 100 kg/bulan. Ke depan tidak hanya Nibs saja, kami mengupayakan produksi dan ekspor produk olahan cokelat yang bernilai tambah lebih tinggi.

"Pekebun kakao yang tergabung dalam koperasi dapat memperoleh keuntungan yang cukup signifikan. Salah satu dampak positifnya harga penjualan Nibs dapat lebih mahal dan stabil, koperasi pun continue mendampingi petani, memberikan saran advokasi serta melalui pendampingan dari koperasi dapat mengubah mindset pekebun agar lebih memperhatikan proses hulu hingga ke hilir sehingga hasil produksi dan produktivitas berkualitas mutu baik dan berdaya saing," ujarnya.

"Harapan kedepannya, kita dapat disupport mesin-mesin yang kapasitasnya lebih besar sehingga kita bisa menjual pasta, butter, powder baik lokal maupun ekspor," harapnya.

Plt Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Baginda Siagian mengapresiasi langkah yang dilakukan Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya. Apalagi didukung kemitraan yang kuat. “Ini salah satu bentuk koorporasi petani yang wajib direplikasi di sentra kakao lainnya. Perlu juga memperkuat branding melalui promosi,” katanya. (*/r1) Editor : Administrator
Bali kakao Ditjen Perkebunan