Nyelametang Telokan adalah merupakan suatu tradisi ritual menyelamatkan pantai. Guna menolak bala atau menolak unsur jahat dan kesialan dan pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki yang diberikan kepada warga dusun setempat. Kegiatan ini merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang yang terus dipelihara oleh masyarakat setempat.
"Ini merupakan budaya kami yang harus dijaga, apalagi sejak gempa hingga pandemi Covid-19 belum pernah dilaksanakan lagi. Baru tahun ini bisa lagi digelar," ucap Kepala Dusun Teluk Kombal Multazam, Rabu (21/9/2022).
Ia menjelaskan, tujuan pelaksanaan upacara ritual Nyelametang Telokan ialah untuk mengaplikasikan rasa bersyukur masyarakat nelayan terhadap rezeki yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa, memohon kepada pemilik alam semesta untuk nantinya mendapat rezeki yang melimpah ruah.
Sehingga, masyarakat nelayan dapat hidup dengan makmur, selain itu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memohon kepada Tuhan supaya terhindar dari malapetaka baik itu penyakit maupun bencana alam.
Untuk ritual ini, Tetua Nelayan menyiapkan sejumlah sesajen dalam piring di atas nare (sampan). Sesajen itu terdiri atas beras pati (beras kuning), bubur putih, bubur hitam, bubur merah, tepat, jaje bantal, kelapa hingga kembang tujuh rupa.
Yang selanjutnya untuk beras kuning diusapkan kepada penjor (tiang) bambu muda oleh warga. Paling utama dilakukan oleh ibu hamil, diharapkan bayi dalam kandungan dapat menjaga warisan budaya ini. Kemudian, Tetua Nelayan disiram atau dilemparkan ke laut hingga basah.
"Dua batang bambu kita tancapkan di tengah laut tak jauh dari bibir pantai atau 200 meter," tambahnya.
Tetua Nelayan sekaligus Kepala Desa Pemenang Barat Asma'at menambahkan, ritual ungkap syukur ini memiliki makna konservasi. Di tengah sektor pariwisata yang menggeliat, perayaan ini menjadi medan pertempuran antara kepentingan tradisi dan kepariwisataan.
"Ritual ini dikenal juga dengan rebo bontong (rabu terakhir). Dan biasanya dilakukan pada Rabu terakhir Safar pada kalender Hijriyah. Ritual serupa juga digelar di Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno dengan sebutan mandi Safar," katanya.
Setelah selamatan ini, kata dia, para nelayan tidak boleh melaut selama tiga hari. Larangan ini cukup efektif, jangankan berlayar jauh, beraktivitas di pesisir pun jarang. Perahu-perahu harus ditambat.
"Larangan itu sebagai simbol agar nelayan memberikan kesempatan ikan-ikan bertelur dan tumbuh besar," pungkasnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida