Jika suatu saat dunia mengalami krisis air bersih, gerakan yang dicanangkan Sri Wahyuningsih ini bisa menjadi solusi.
Berkat kegigihannya mengedukasi masyarakat, dia menerima penghargaan Kehati Award 2024 pada 3 Desember di Jakarta. Punya Slogan, Ngombe Banyu Udan ben Ora Edan.
---------------------
LombokPost--Senyum merekah saat namanya dipanggil sebagai salah satu penerima Kehati Award 2024 di gedung Kesenian Jakarta (3/12).
Sebelum penghargaan diberikan secara resmi di panggung utama, Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati Indonesia) memberikan kesempatan kepada wartawan untuk wawancara dengan Sri Wahyuningsih serta penerima penghargaan lainnya.
Yu Ning, begitu dia akrab disapa, meraih penghargaan karena dedikasinya mengolah air hujan. Dia mendirikan komunitas Banyu Bening pada 2012.
Lalu, pada 2015 dia mendirikan Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Lewat sekolah itu, Yu Ning berinovasi mengatasi krisis air bersih.
Sesuai dengan namanya, dia menjadikan air hujan sebagai solusi mengatasi air bersih.
Sekolah Air Hujan Banyu Bening bermarkas di Jalan Rejondani, Dusun Tempursari, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta.
Yu Ning mengatakan, semula dirinya kerap menerima cibiran karena menggunakan air hujan untuk air minum.
’’Dianggap wong gendeng (orang gila),’’ katanya.
Namun, perempuan 57 tahun itu tetap kukuh dengan visinya bahwa air hujan bisa menjadi solusi krisis air karena aman dikonsumsi.
Dia menyadari bahwa di daerahnya pasokan air sangat melimpah. Berbeda dengan daerah lain di Yogyakarta, seperti Gunungkidul, yang kerap menderita kekeringan.
Yu Ning mengatakan, di kampungnya, menggali sumur sedalam 3 meter saja sudah cukup. Sumber mata air sudah keluar.
Cukup untuk memenuhi pasokan air bersih rumah tangga. Meski begitu, dia tetap melanjutkan gagasannya untuk menampung air hujan.
’’Tugas saya mengedukasi masyarakat. Sesuai dengan kelompok masyarakat,’’ jelasnya.
Dia memberikan edukasi tentang perlunya memanfaatkan air hujan tidak hanya ke ibu-ibu rumah tangga, tetapi juga bocah PAUD, murid sekolah, mahasiswa, bahkan akademisi.
Setiap kelompok itu mempunyai cara dan materi sosialisasi yang berbeda-beda meskipun tujuannya sama.
Untuk masyarakat sekitar, menurut dia, yang dibutuhkan cukup contoh atau keteladanan. ’’Contoh dari saya, menjadi legalitas yang tidak tertulis,’’ tutur Yu Ning, kemudian tersenyum.
Begitu pun untuk anak-anak. Kebanyakan dalam diri mereka masih tertanam pemahaman bahwa air hujan bikin pilek atau flu. Padahal, jelas-jelas flu atau influenza adalah penyakit yang disebabkan virus. Orang bisa terserang flu ketika kondisi imunitasnya turun. Bukan semata-mata karena hujan-hujanan atau minum air hujan.
’’Konsep kita, bagaimana air hujan yang jatuh itu kita tampung sebanyak-banyaknya,’’ katanya.
Air hujan itu ditampung supaya bisa melewati musim kemarau. Dengan begitu, masyarakat tetap mempunyai akses air bersih sampai ketemu dengan musim hujan berikutnya.
Dia mencontohkan, satu orang membutuhkan 10 liter air bersih dalam sehari. Berarti untuk sebulan, butuh 300 liter air.
Lalu, dibuat estimasi, dalam satu tahun, durasi musim kemaraunya berapa bulan.
Lewat perhitungan itu, akan ketemu berapa banyak air hujan yang harus mereka tangkap dan disimpan dalam tandon.
’’Saat kemarau El Nino tahun lalu, sepuluh bulan kemaraunya,’’ tuturnya.
Maka, satu orang dianjurkan menyimpan 3.000 liter air bersih.
Ketika musim kemarau tiba, warga yang tergabung dalam komunitas Banyu Bening tinggal memanen air bersih dari air hujan yang sudah mereka simpan.
Hitungan mereka benar-benar cukup detail. Ketika ada kelebihan, dianjurkan untuk dikembalikan lagi ke dalam tanah.
Yu Ning menambahkan, selama ini masyarakat mengenal lumbung pangan. Sedangkan mereka menghadirkan lumbung air bersih.
Buah dari ketelatenan mereka, anggota komunitas Banyu Bening memanen air bersih saat musim kemarau.
’’Slogan kami, ngombe banyu udan ben ora edan (minum air hujan biar tidak gila),’’ katanya penuh semangat. Menurut dia, memanfaatkan air hujan untuk mengatasi krisis air bersih bukan sebuah kegilaan.
Yu Ning mengungkapkan, air hujan yang mereka tangkap tidak perlu direbus ketika akan dikonsumsi.
’’Ada teknologinya, salah satunya pemecahan partikel air,’’ jelasnya. Teknologi yang dia maksud itu adalah elektrolisis. Yaitu, proses penguraian senyawa ionik berbasis listrik. Dengan proses disetrum itu, air hujan sudah layak minum.
Proses elektrolisis tersebut akan menghasilkan dua kelompok air. Pertama, air basa untuk dikonsumsi. Kemudian, air asam yang digunakan sebagai antiseptik. Tetapi, kalau pemenuhan kebutuhan air bersih untuk mencuci atau mandi, tidak perlu sampai diproses elektrolisis.
Saat ini sistem pengolahan air hujan sebagai air minum ala Banyu Bening sudah menyebar ke banyak daerah. Di antaranya, Merauke, Bali, Balikpapan, Samarinda, dan Surabaya. Kemudian, Malang, Lumajang, Probolinggo, Solo, Banyumas, Aceh, serta Cilacap.
Upaya yang dilakukan komunitas Banyu Bening itu termasuk dalam konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air. Pengelolaan air hujan dengan menampung dan meresapkan air ke dalam tanah bertujuan menjaga muka air tanah (MAT) sekaligus mitigasi bencana hidrometeorologi.
Pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan air minum dilakukan secara manual. Selain itu, menggunakan sistem gama rain filter, sesuai prinsip prosedur penampungan. Dengan begitu, air hujan yang ditampung bersih dan siap diproses selanjutnya.
’’Motivasi kami memberi solusi di tengah isu krisis air bersih saat ini,’’ kata Yu Ning.
Meskipun air tanah di tempatnya melimpah, bukan tidak mungkin di masa depan akan mengalami krisis air bersih. Apalagi jika gelombang El Nino kembali muncul.
Dengan menggunakan air hujan itu, manfaat lainnya adalah mengurangi konsumsi air mineral kemasan.
Efek lanjutannya, potensi sampah botol plastik dari air minum kemasan juga bisa direduksi.
Yu Ning menegaskan, Tuhan sudah memberikan air hujan yang gratis. Tinggal bagaimana manusia bijaksana dalam memanfaatkannya. (*/c7/oni/JPG/r5)
Editor : Kimda Farida