LombokPost – Daryono melalui media sosialnya menyampaikan analisisnya mengenai potensi gempa megathrust di sejumlah zona subduksi.
Dalam keterangannya, Daryono menekankan zona seismic gap (kekosongan seismik) di Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut saat ini jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan Palung Nankai di Jepang.
Palung Nankai dikenal memiliki sejarah gempa bumi dan tsunami dahsyat dengan siklus kejadian setiap 100 hingga 200 tahun.
Beberapa gempa dan tsunami besar yang pernah terjadi di Palung Nankai antara lain Gempa Hakuho Nankai (684), Gempa Ninna Nankai (887), Gempa Kōwa Nankaido (1099), Tsunami Shōhei Nankaido M8,4 (3 Agustus 1361), Tsunami Keichō Nankaido M7,9 (3 Februari 1605), Tsunami Hoei M8,7 (28 Oktober 1707), Tsunami Ansei Nankai M8,4 (24 Desember 1854), dan tsunami Nankaido M8,4 (21 Desember 1946).
Daryono menjelaskan gempa dahsyat terakhir di Palung Nankai terjadi pada tahun 1946.
Dengan siklus perulangan 100-200 tahun, maka seismic gap di wilayah tersebut saat ini baru berusia 79 tahun.
"Jika kita cermati peristiwa tsunami dahsyat di Nankai terakhir terjadi pada tahun 1946, maka hingga saat ini Seismic Gap-nya baru berusia 79 tahun. Jika perulangan gempa dahsyat di Nankai setiap 100-200 tahun, maka dalam ketidakpastian kapan terjadinya, maka WNI di Jepang masih punya waktu untuk menyiapkan diri terkait cara selamat dan Upaya Mitigasi Gempa dan Tsunami," ujar Daryono.
Lebih lanjut, Daryono mengungkapkan Indonesia saat ini memiliki dua zona seismic gap di zona megathrust yang usianya jauh lebih tua dan berpotensi lebih tinggi untuk melepaskan energi gempa besar.
Ada zona Megathrust Selat Sunda: Gempa terakhir tercatat pada tahun 1757, yang berarti seismic gap ini telah berusia 267 tahun.
Ada zona Megathrust Mentawai-Siberut: Gempa terakhir juga terjadi pada tahun 1798 (revisi dari informasi sebelumnya), yang berarti seismic gap ini telah berusia 227 tahun. (Koreksi: Informasi awal menyebutkan 1757, namun berdasarkan catatan sejarah kegempaan Mentawai, gempa besar terakhir terjadi pada tahun 1798)
"Sebagai perbandingan bahwa, Kita di Indonesia saat ini juga memiliki 2 zona Seismic Gap yang usianya lebih dari 200 tahun, yaitu: (1) Gempa Megathrust Selat Sunda terakhir 1757 (sudah 267 tahun) dan Gempa Megathrust Mentawai-Siberut terakhir 1798 (sudah 227 tahun). Kedua zona Seismic Gap di zona Megathrust ini hingga sekarang belum rilis energi gempa besar dan tinggal menunggu waktu. Selat Sunda dan Mentawai-Siberut jauh lebih menkhawatirkan daripada Megathrust Nankai," tegas Daryono.
Pernyataan ini menggarisbawahi potensi bahaya yang sangat besar dari kedua zona megathrust di Indonesia.
Usia seismic gap yang telah melampaui siklus perkiraan menunjukkan adanya akumulasi energi tektonik yang signifikan dan berpotensi memicu gempa bumi dengan magnitudo besar serta tsunami.
Ia terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas seismik di kedua zona tersebut.
Masyarakat di wilayah Selat Sunda dan Sumatera Barat, khususnya Kepulauan Mentawai dan Siberut, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan diri menghadapi potensi terjadinya gempa bumi dan tsunami.
Langkah-langkah mitigasi seperti pemahaman jalur evakuasi, pembangunan bangunan tahan gempa, dan partisipasi dalam simulasi evakuasi menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. (nur)
Editor : Redaksi Lombok Post