LombokPost – Kisah pasangan suami istri (pasutri) Askar Simbolon (75) dan istrinya, Asniar Pasaribu (69) menunaikan ibadah haji patut diacungkan jempol.
Soalnya, kegigihan mereka menabung selama belasan tahun dari hasil jualan Sembako kecil-kecilan di rumah mereka, membuatnya keduanya bisa berangkat ke Tanah Suci.
Ya Pasutri asal Kota Sibolga, Sumatera Utara ini tergabung ke dalam Kelompok Terbang (Kloter) 23 Embarkasai Medan.
Keduanya mengetahui nama mereka masuk ke dalam Kloter 23 tersebut setelah mendapatkan kabar dari Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Sibolga di awal 2025.
Sontak saja, kabar itu membuat mereka tak sanggup menahan tangis karena terharu. Maklum, saja, kabar ini sudah lama mereka nanti-nantikan.
“Rasanya seperti mimpi. Belasan tahun kami menunggu. Sekarang, saat fisik mulai rapuh, Allah tetap beri kami kesempatan,” ungkap Asniar dengan mata berkaca-kaca.
Soalnya, Asniar dan suaminya hampir saja mengurungkan niat menunaikan ibadah haji setelah salah seorang anak mereka meninggal dunia. Padahal, almarhum anak tersebut merupakan tulang punggung di keluarga mereka.
Cobaannya tidak hanya itu. Di saat Pandemi Covid-19 melanda, hasil penjualan kedai mereka pun terbilang sepi. Tak jarang, mereka pun harus merelakan tetangga membeli dagangan mereka dengan cara berhutang.
Soalnya, para jiran tetangga mereka juga terkena imbas, kesulitan ekonomi karena pandemi tersebut.
“Kadang sehari cuma laku lima bungkus mie instan. Tapi kami tetap bersyukur, yang penting bisa nyisihin meski sedikit,"papar Asniar.
Di tengah cobaan yang melanda itulah, Asniar dan suaminya sempat berniat untuk membatalkan rencana mereka menunaikan ibadah haji.
Tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak lain. Keduanya pun mendapatkan dukungan yang tinggi dari para tetangga yang menguatkan Asniar dan suaminya untuk tetap menunaikan ibadah haji.
Hingga akhirnya, waktu yang dinantikan pun telah tiba. Keduanya bisa menunaikan ibadah haji, walau dalam kondisi fisik yang tidak lagi kuat seperti dulu.
“Waktu daftar, saya masih kuat angkat karung beras sendiri. Sekarang sudah harus pakai tongkat bahkan dipapah oleh istri saya. Penyakit sudah banyak di umur tua ini,” ujar Askar.
“Banyak yang bilang kami sudah tua, tapi bagi kami, ini perjalanan menuju puncak cinta pada Allah. Kami ingin berangkat dan pulang dengan hati yang bersih,” sambungnya.***
Editor : Redaksi Lombok Post