LombokPost - Suasana penuh khidmat dan haru menyelimuti Pengajian Akbar yang digelar di kota Chiayi, Taiwan, Ahad (12/5).
Ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Taiwan larut dalam lantunan ayat suci dan pesan-pesan menyejukkan dari dua tokoh inspiratif: Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi (TGB) dan Qari Internasional Syamsuri Firdaus.
Acara yang diselenggarakan oleh komunitas diaspora bekerja sama dengan PCNU Istimewa Taiwan ini menjadi ruang silaturahmi yang menyentuh jiwa.
Tak sekadar pengajian, kegiatan ini menghadirkan semangat spiritual, adab, dan nasionalisme yang membumi.
Syamsuri Firdaus, juara MTQ Internasional asal Bima, NTB, membuka acara dengan lantunan Al-Qur’an yang menggema syahdu, menggugah hati para jamaah yang rindu tanah air.
Sementara itu, TGB, ulama sekaligus tokoh kebangsaan yang kini menjabat anggota Majelis Hukama Ulama Dunia, menyampaikan tausiyah bertema Islam, Adab, dan Kebangsaan.
“Islam dan cinta tanah air tidak dapat dipisahkan. Dimanapun kita berada, kita bawa nama baik Indonesia. Jaga syariat, jaga adab,” tutur TGB di hadapan jamaah.
Malam sebelumnya, TGB disambut hangat di Mushalla Chiayi. Dalam suasana akrab, ia menyampaikan pesan yang membuat jamaah terharu.
“Lain kali kalau undang saya, cukup siapkan tempat. Jangan repot soal hotel atau transportasi. Biar saya yang atur.
Jangan sampai saudara-saudara saya di Taiwan jadi repot,” ujar TGB, seperti dituturkan Saibi, salah satu panitia.
Momen mengharukan juga terjadi saat TGB menyapa Hardianto, warga NTB asal Praya, Lombok Tengah, yang telah bekerja di Taiwan selama empat tahun dan baru saja menikah.
Ia diberi nasihat untuk membangun keluarga dengan nilai-nilai Islam, adab, dan tanggung jawab sosial.
TGB dikenal sebagai sosok moderat yang aktif menyuarakan Islam Wasathiyah di panggung dunia.
Selain berdakwah di Nusantara, ia pernah menjadi pembicara di forum internasional seperti IMSA-MISG di Amerika Serikat, Konferensi PPI Dunia di Inggris, hingga forum Timur Tengah.
Ketua PCINU Istimewa Taiwan menyebut acara ini sebagai momen spiritual yang memperkuat jati diri WNI di luar negeri.
“Ini bukan sekadar pengajian, tapi penguat hati dan identitas sebagai Muslim dan anak bangsa,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan harapan agar syiar Islam damai ini bisa terus berlanjut, menyapa hati diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia. (***)
Editor : Alfian Yusni