LombokPost - Demi meningkatkan integritas dalam menjalankan tugas, para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) harus menjalankan perintah penting dari Menteri Sosial, Saifullah Yusuf.
Atas dasar itu, Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul itu pun mengingatkan agar para pendamping PKH tidak melakukan manipulasi data.
Selain itu, Gus Ipul juga mengingatkan agar tak satu pun para pendamping PKH melakukan Pungutan Liar (Pungli) terhadap para Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
"Jangan terlibat dalam manipulasi data, pemotongan, atau pungutan liar,” papar Gus Ipul.
Soalnya kedua tindakan, manipulasi data dan pungutan liar tersebut bisa merusak kepercayaan publik terhadap para pendamping PKH.
"Pentingnya disiplin dalam pengisian aplikasi pelaporan dan verifikasi sehingga data yang masuk akurat dan tepat waktu. Jangan ada data fiktif, jangan ada laporan kosong. Setiap perubahan harus dicatat dan dilaporkan,” pesan Gus Ipul.
Untuk mendapatkan data yang akurat, para pendamping PKH juga diminta untuk bersinergi lintas sektor dalam proses pendampingan KPM.
Disarankan, agar berkoordinasi dengan pemerintah desa, Puskesmas, sekolah, dan tokoh masyarakat. Sehingga target pemberdayaan bisa tercapai.
"Kita bekerja untuk rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok,” ujarnya.
Gus Ipul pun tak memungkiri bahwa pendamping PKH memiliki peran krusial aebagai garda terdepan perubahan sosial dan pengentasan kemiskinan.
"Saudara-saudara adalah agen perubahan di garda terdepan. Tugas utama pendamping adalah membangkitkan harapan dan mendorong kemandirian KPM, bukan hanya membagikan bantuan,” paparnya.
Atas dasar itu, Gus Ipul pun meminta agar para pendamping PKH memperkuat pemberdayaan PKM.
Caranya, masing-masing pendamping PKH harus mampu mengantarkan paling sedikit 10 KPM menuju graduasi setiap tahunnya.
Gus Ipul menambahkan, memulainya dari data. Para pendamping harus melakukan proses kerja berbasis data dan sistem. Tentunya, yang terarah, terpadu, berkelanjutan.
"Arahnya jelas, dipadukan, kemudian berkelanjutan. Ini penting untuk pemahaman kita. Mulainya dari data," jelas Gus Ipul.***
Editor : Siti Aeny Maryam